Aliansi Tanpa Jaminan: Ketika Iran dan Venezuela Menjadi Bidak Geopolitik Rusia

Khilmi Zuhroni
Khilmi ZuhroniPenulis
Tim Redaksi
Tim RedaksiEditor
21 Januari 2026Rabu, 01:20 WIB
19
Aliansi Tanpa Jaminan: Ketika Iran dan Venezuela Menjadi Bidak Geopolitik Rusia

Foto:Khilmi Zuhroni, Direktur Journal of Social Studies

OPINI

Aliansi Tanpa Jaminan: Ketika Iran dan Venezuela Menjadi Bidak Geopolitik Rusia

Dalam lanskap geopolitik abad ke-21, aliansi antarnegara kadang tampak kokoh di atas kertas — tetapi rapuh dalam praktiknya ketika kepentingan strategis utama berubah arah. Contoh paling tampak bukan hanya hubungan Rusia-Iran, tetapi juga bagaimana Moskow selama akhir 2025 dan awal 2026 bersikap terhadap sekutu-sekutu yang dianggap membantu tujuan utamanya: kemenangan di Ukraina dan perlawanan terhadap tekanan Barat.

Pada Januari 2025, Rusia dan Iran menandatangani Perjanjian Kemitraan Strategis Komprehensif 20 tahun, yang secara resmi mulai berlaku pada Oktober 2025. Perjanjian ini mencakup komitmen memperkuat kerjasama di banyak bidang: ekonomi, energi, teknologi, budaya, dan aspek militer, serta koordinasi dalam organisasi multilateral seperti BRICS dan SCO.

Data perdagangan menunjukkan kemajuan nyata: nilai perdagangan bilateral meningkat pesat sejak 2022, mencapai sekitar $3,3 miliar pada sembilan bulan pertama 2024, naik 14,7% dibanding tahun sebelumnya, dengan perdagangan hampir 96% dilakukan dalam mata uang nasional (rubel dan rial) — strategi jelas untuk menghindari dominasi dolar AS.

Namun, meskipun angka-angka itu terasa impresif, konteksnya penting. Total perdagangan masih relatif kecil dibanding kekuatan ekonomi global lain, dan peningkatan itu lebih dipicu oleh kebutuhan praktis kedua negara yang sama-sama dibatasi sanksi daripada oleh visi strategis yang setara. Faktanya, hubungan ini tidak mencakup klausul pertahanan bersama yang mengikat, berbeda dengan aliansi militer klasik; keduanya hanya berkomitmen untuk tidak membantu pihak yang menyerang partner lainnya.

Fakta ini menunjukkan batas dasar dari kemitraan “strategis”. Ketika salah satu negara berada di bawah tekanan internal yang besar, sekutu tidak secara otomatis datang membantu. Contohnya tampak di akhir 2025 ketika gelombang protes besar di Iran memunculkan banyak korban — dan Moskow justru relatif bungkam, menghindari kecaman atas kekerasan dalam negeri Tehran meskipun hubungan resmi ditegaskan kuat. Analis menilai sikap diam Putin menunjukkan fokus utama Rusia tetap pada Ukraina — bukan krisis internal sekutu secara langsung.

Fenomena serupa terjadi di Venezuela. Kerjasama Rusia–Venezuela, terutama di sektor minyak dan pertahanan, runtuh ketika Washington melakukan operasi militer yang menggulingkan Presiden Nicolás Maduro awal Januari 2026. Menurut analis, Rusia mungkin harus menulis rugi investasi besar dalam aset minyak dan kredit penjualan senjata di Venezuela, dengan perkiraan kerugian miliaran dolar dan potensi anjloknya perdagangan bilateral yang sebelumnya bernilai sekitar $2 hingga $3 miliar per tahun.

Situasi ini memperlihatkan bahwa, ketika pertarungan utama Moskow bergeser, negara-negara sekutu bisa tiba-tiba kehilangan dukungan praktis.

Sama halnya dengan Iran, yang meskipun penting bagi produksi dan transfer drone serta teknologi militer, tetap berada di luar pusat kepentingan Rusia jika pergeseran fokus terjadi. Sejak invasi ke Ukraina pada 2022, Iran memang terkenal menyediakan ribuan drone jenis Shahed dan teknologi terkait kepada Rusia — meninggalkan jejak yang signifikan dalam konflik tersebut.

Pemerintah Ukraina bahkan mencatat lonjakan dalam produksi drone domestik Rusia dengan basis teknologi Iran, dan Moskow mencari target produksi hingga 1.000 unit per hari pada 2026 untuk menjaga serangan berkelanjutan. Namun ketika kebutuhan tersebut mulai dipenuhi secara mandiri oleh Rusia — dengan pabrik drone baru di internal wilayahnya — leverage Iran sedikit berkurang.

Ini bukan berarti hubungan Iran–Rusia tanpa nilai; ada keuntungan nyata, termasuk peluncuran satelit Iran oleh roket Rusia yang menunjukkan dimensi teknis dari kerjasama dan potensi kerja sama sains yang lebih luas di luar domain militer. Namun, keuntungan itu lebih bersifat pragmatis dan transaksional ketimbang dibangun di atas kesetaraan strategis.

Teori hubungan internasional memperingatkan: kekuatan besar cenderung menilai sekutu berdasarkan apakah mereka esensial untuk tujuan inti mereka. Dalam kasus Rusia, tujuan inti itu jelas — mempertahankan posisi dalam perang Ukraina, meredam pengaruh Barat, dan membentuk ruang geopolitik yang lebih menguntungkan Moskow. Ketika sekutu seperti Iran atau Venezuela membantu tujuan itu, hubungan diperkuat di atas kertas. Ketika kebutuhan itu berubah — misalnya revolusi domestik, atau kebutuhan militer yang mulai dipenuhi sendiri — sekutu tersebut dengan cepat menjadi kurang prioritas.

Oleh karena itu, meskipun dinamika perdagangan membaik dan perjanjian formal menegaskan kerja sama, realitas hubungan Rusia–Iran menunjukkan batasan substansial dalam perlindungan timbal balik bila ketertarikan nasional tidak sejalan. Iran tetap, dalam pandangan beberapa analis, sekutu pragmatis yang berguna sejauh membantu Moskow mencapai tujuan utama — tetapi bukan sekutu yang tidak bisa ditinggalkan ketika prioritas strategis berubah. Ini tidak hanya mencerminkan pragmatisme dalam politik luar negeri Rusia, tetapi juga kekakuan sistem aliansi global di mana negara-negara kecil sering menjadi bidak dalam permainan kekuatan besar yang jauh lebih besar — dilepas atau diremehkan ketika kondisinya berubah.

[KHILMI ZUHRONI]



Avatar
Mediamukalteng.com dengan motto "Da'wah News and Education" sebagai ikhtiar membangun masyarakat madani, harmonis dan berkeadaban.
Copyright © 2026 MediaMu Kalteng
Designed and Developed by Jinara Studio
Ketika Iran dan Venezuela Menjadi Bidak Geopolitik Rusia