Dalam satu dekade terakhir, diskursus mengenai etika bisnis telah bergeser dari orientasi profit semata menuju paradigma keberlanjutan, kesejahteraan psikologis karyawan, serta tanggung jawab sosial yang lebih luas, sehingga ukuran keberhasilan organisasi tidak lagi cukup diwakili oleh indikator finansial jangka pendek semata. Organisasi modern menghadapi tantangan kompleks terkait retensi talenta, burnout, dan menurunnya engagement yang sering kali berakar pada persepsi ketidakadilan, praktik manajerial yang tertutup, serta lemahnya integritas kepemimpinan.
Dalam konteks ini, Etos Kerja Islam (EKI) atau Islamic Work Ethic menawarkan kerangka kerja alternatif yang komprehensif karena memadukan dimensi spiritual, moral, dan profesional, di mana bekerja dipahami bukan hanya sebagai aktivitas ekonomi, tetapi juga sebagai ibadah dan manifestasi keimanan yang menuntut kejujuran, amanah, dan tanggung jawab sosial.
[Oleh: Khilmi Zuhroni]



