Muhammadiyah, sejak kelahirannya pada tahun 1912, tidak pernah bisa dilepaskan dari tiga pilar utamanya: dakwah, pendidikan, dan sosial. Namun, di balik ketiga pilar yang menjulang tinggi itu, terdapat fondasi kokoh yang seringkali luput dari sorotan utama, yakni gerakan ekonomi. K.H. Ahmad Dahlan, sang pencerah, adalah seorang pedagang batik yang ulung. Beliau tidak hanya menyebarkan ajaran tauhid yang murni dan semangat pembaruan (tajdid), tetapi juga memberikan teladan nyata bahwa dakwah dan kemandirian ekonomi adalah dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan. Spiritualitas yang hidup adalah spiritualitas yang memberdayakan, yang mengubah nasib kaum lemah (dhuafa dan mustadh'afin) melalui aksi nyata, sebuah manifestasi dari Teologi Al-Ma'un yang menjadi jantung gerakan ini.
Artikel ini akan mengupas secara mendalam dimensi Muhammadiyah sebagai sebuah gerakan ekonomi. Analisis akan dibagi ke dalam beberapa sub-materi utama. Pertama, akan membedah sumber-sumber kekuatan ekonomi yang menjadi tulang punggung Persyarikatan selama lebih dari satu abad. Kedua, tulisan ini akan menelaah hubungan simbiosis yang kompleks antara Muhammadiyah dan kelas menengah yang dilahirkannya sendiri. Ketiga, kita akan melakukan refleksi jujur terhadap pasang surut gerakan ekonomi Muhammadiyah, mengidentifikasi keberhasilan sekaligus tantangan yang ada.
Terakhir, berdasarkan analisis tersebut, kita akan mencoba merumuskan dan memproyeksikan model gerakan ekonomi Muhammadiyah yang relevan dan efektif untuk menjawab tantangan zaman di masa depan. Ini adalah sebuah ikhtiar intelektual untuk memastikan bahwa api semangat ekonomi yang dinyalakan K.H. Ahmad Dahlan terus menyala dan menerangi peradaban.
[Oleh: Khilmi Zuhroni]



