SAMPIT – Kabut asap yang terus menyelimuti Kota Sampit dan sejumlah wilayah di Kabupaten Kotawaringin Timur akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mendorong berbagai pihak melakukan ikhtiar lahir dan batin.
Di tengah kondisi musim kemarau yang berkepanjangan dan hujan yang belum turun selama lebih dari tiga bulan, keluarga besar SMK Muhammadiyah Sampit menggelar Salat Istisqa di halaman sekolah, Jumat (28/8/2026).
Ratusan peserta yang terdiri atas siswa, guru, dan tenaga kependidikan mengikuti salat sunnah dua rakaat tersebut dengan penuh khusyuk. Sejak pagi, suasana halaman sekolah tampak berbeda. Di bawah langit yang masih diselimuti kabut asap tipis, seluruh peserta berkumpul untuk memanjatkan doa bersama agar Allah SWT segera menurunkan hujan yang membawa keberkahan dan mengakhiri bencana karhutla yang melanda daerah ini.
Bertindak sebagai imam sekaligus khatib, Selamat Rama Dani, S.Pd., menyampaikan bahwa Salat Istisqa merupakan salah satu bentuk ikhtiar spiritual yang diajarkan dalam Islam ketika suatu wilayah mengalami kekeringan dan membutuhkan hujan.
Dalam khutbahnya, ia mengajak seluruh jamaah untuk memperbanyak istighfar, memperkuat ketakwaan, serta menjadikan musibah yang terjadi sebagai momentum introspeksi diri.
“Salat Istisqa adalah ikhtiar dan doa bersama untuk memohon kepada Allah SWT agar segera menurunkan hujan yang membawa keberkahan dan manfaat bagi kita semua,” ujarnya di hadapan jamaah.
Menurutnya, bencana kekeringan dan karhutla tidak hanya dipandang sebagai fenomena alam semata, tetapi juga menjadi pengingat bagi manusia untuk kembali mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Karena itu, selain berdoa memohon hujan, umat Islam juga diajak memperbaiki hubungan dengan Allah SWT melalui taubat dan amal kebaikan.
Lebih jauh, Selamat menegaskan bahwa pelaksanaan Salat Istisqa kali ini juga memiliki makna yang lebih luas, yakni sebagai bentuk kesadaran ekologis. Ia mengajak seluruh warga sekolah untuk menjadikan momentum tersebut sebagai ruang muhasabah terhadap sikap manusia terhadap lingkungan.
“Momentum ini juga menjadi ruang untuk taubat ekologis, muhasabah atas sikap kita terhadap alam, dan mengingat kembali tanggung jawab untuk menjaga, merawat, serta tidak merusak lingkungan,” tegasnya.
Pesan tersebut mendapat perhatian serius dari para siswa. Di tengah meningkatnya dampak karhutla yang menyebabkan kualitas udara menurun dan aktivitas masyarakat terganggu, edukasi tentang pentingnya menjaga lingkungan dinilai menjadi bagian penting dalam membangun kesadaran generasi muda.
Kepala SMK Muhammadiyah Sampit beserta dewan guru berharap kegiatan ini tidak hanya menjadi agenda seremonial keagamaan, tetapi juga mampu menumbuhkan karakter peduli lingkungan di kalangan peserta didik. Sekolah ingin menanamkan pemahaman bahwa menjaga alam merupakan bagian dari amanah yang harus dilaksanakan setiap manusia.
Usai pelaksanaan salat dan khutbah, seluruh jamaah menengadahkan tangan, memanjatkan doa dengan penuh harap agar hujan segera turun dan mengakhiri musim kemarau panjang yang melanda wilayah Kotawaringin Timur.
Di tengah tantangan kabut asap yang masih menyelimuti Sampit, doa-doa yang dipanjatkan pagi itu menjadi simbol harapan bersama. Harapan agar langit kembali menurunkan hujan, memadamkan kobaran api yang membakar hutan dan lahan, sekaligus mengembalikan kesejukan alam yang selama ini menjadi sumber kehidupan masyarakat.
Keluarga besar SMK Muhammadiyah Sampit meyakini bahwa setiap ikhtiar yang dilakukan dengan kesungguhan akan menghadirkan pertolongan Allah SWT. Semoga doa dan ikhtiar bersama tersebut menjadi jalan turunnya rahmat-Nya, menghadirkan hujan yang membawa kebaikan bagi bumi, lingkungan, dan seluruh makhluk yang hidup di atasnya.
Bagikan artikel ini:








