Kesehatan Suatu Keberkahan Yang Tak Ternilai Harganya
Oleh : Muhammad Fitriani | Bina Rohani RS Islam PKU Muhammadiyah Palangka Raya
Suatu saat ketika sedang melakukan kunjungan pasien (bina rohani), Muhammad Fitriani bertemu dengan pasien yang di rawat di ruangan ICU dengan kondisi yang sangat lemah, pasien tersebut langsung mengucapkan Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh dan selamat siang, Muhammad Fitriani langsung mengucapkan waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh dan selamat siang bapak,
Setelah dibantu setengah duduk beliau mengucapkan Alhamdullillah, makasih dik, Katanya dengan wajah terlihat dalam tekanan (Stress), Pak Muhammad Fitriani menjawab sama – sama pak. Muhammad Fitriani bertanya gimana kabarnya bapak, Alhamdullillah sudah lebih baik dari kemren sore, bapak (pasien) menghela nafas panjang, kemudian beliau bercerita : “Begini pak sebenarnya saya ini hampir tidak pernah masuk kerumah sakit apalagi sampai rawat inap, setelah hampir 65 tahun ini masuk rumah sakit dan di nyatakan dokter sakit jantung dan harus dirawat di ruangan ini (ICU), saya kaget dan rasa hilang harapan hidup saya,” pak Muhammad Fitriani (binroh) memandang agak lama ke pasien (bapak), yakin bapak bisa sehat bahkan Allah SWT tidak akan membebani umatnya melebihi kemampuan umatnya. Salah satunya kita berusaha/ ikhtiar berobat di rumah sakit ini.
Setelah itu Muhammad Fitriani mengajak bapak (pasien) untuk berdzikir dan berdoa bersama, ternyata selesai berdoa bapak (pasien) tersebut langsung meneteskan air mata (menangis), serta mengucapkan nikmatnya sehat dapat dirasakan dikala sakit, setelah itu Muhammad Fitriani mengingatkan sholat dan bertayamum (bersuci) sesuai kemampuan, berpesan tetap semangat serta mengucapkan pamit meninggalkan pasien.
Dalam uraian tulisan diatas penulis mencoba mengajak pembaca untuk menjaga kesehatan karena merupakan yang tak ternilai harganya, pengalaman penulis dan juga seorang bina rohani mengatakan akan banyak cerita yang bisa di cerita. Terutama di rumah sakit yaitu tentang kesehatan.
Kesehatan adalah hal yang paling utama orang yang sehat dapat beribadah dengan baik, mereka juga bisa bekerja dengan normal dan produktif. Mereka bisa berbagi dengan sesama tetapi jika sudah jatuh sakit ibadah jadi tidak sempurna, produktivitas menurun dampaknya kurang maksimal untuk berbagi dengan sesama.
Sakit dalam bahasa Arab disebut dengan al maradh المرض yang bermakna ‘rusaknya tubuh’ atau berubahnya kesehatan setelah sebelumnya normal atau dalam istilah kekiniannya bisa disebut juga dengan disabilitas. Seseorang yang sebelumnya mampu (able) menjadi tidak mampu (disable) karena suatu hal. Penyakit datang atas izin Allah baik itu sakit fisik maupun non fisik. Manusia tidak ada yang ingin sakit, Manusia ingin produktif dan berkarya namun ketika sedang sakit manusia terhalang untuk beraktivitas secara maksimal. Syukur-syukur masih beraktifitas secara minimal karena ada juga yang terhenti sama sekali.
Sakit bisa karena kecelakaan tak terduga, dan bisa juga akibat dari perlakuan orang lain yang mencelakakan misalnya tertabrak atau mungkin sengaja ditabrak. Meskipun kita sudah berhati-hati, terkadang masih bisa celaka akibat keteledoran orang lain.
Sakit tidak hanya fisik tapi bisa menyerang mental sehingga kondisi ini juga bisa memengaruhi pikiran, perasaan, suasana hati, atau perilaku seseorang dalam kehidupan, akan tetapi sakit seperti ini seringkali diabaikan karena wujudnya yang tidak terlihat (Intangible), ternyata sakit bisa dipicu oleh berbagai macam sebab dalam kehidupan. Sehingga sakit yang tidak terlihat ini berbahaya terutama adalah gangguan suasana hati yang serius dan berkepanjangan yang ditandai dengan perasaan sedih yang mendalam dan kehilangan minat atau kesenangan dalam aktivitas yang biasanya dinikmati (depresi) dikarenakan sakit fisiknya kapan sembuhnya. Penanganan penderita depresi tidak boleh sembarangan harus secara holistik.
Meskipun fisiknya masih terlihat kuat, akan tetapi mentalnya sangat terganggu sehingga dapat berpengaruh terhadap aktivitasnya. Mereka yang sebelumnya aktif bermasyarakat, berorganisasi, berkarya, bekerja, dan lainnya, bisa saja berhenti melakukan aktivitas tersebut karena mengalami gangguan mental. Bayangkan jika itu membuat aktivitas kebaikan tersebut menjadi terhenti.
Beberapa kasus lebih ekstrim lagi. Ada sebagian orang yang mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri karena lelah menahan sakit. Bisa jadi sebagian besar orang akan mencemooh karena bunuh diri merupakan tindakan yang tercela. Tapi pertanyaan, kemana mereka ketika orang tersebut sedang sakit?
Jika kita buka QS 19:23, ketika Bunda Maryam duduk di bawah pohon kurma karena sudah terasa sakit akan melahirkan, beliau juga berpikir bahwa mati adalah lebih baik. Perasaan ini didorong karena beliau merasa tidak diperhatikan (keputusasaan) dan sakit mendalam yang dilupakan.
Alhamdulillah, Allah mengirimkan malaikat Jibril untuk menemani Bunda Maryam dengan memberikan harapan dan kabar gembira agar tidak bersedih hati. Malaikat Jibril menganjurkan Bunda Maryam untuk makan, minum, dan bersenang hati. Lakukan hal-hal menggembirakan semampunya serta keutamaan bersabar dalam menghadapi cobaan dan ujian hidup.
Ini menjadi pelajaran bagi kita bahwa, hendaknya menjadi teman bagi orang yang sedang dilanda sakit. Bukan mencemooh, menceramahi, mendikte, merendahkan. Apalagi sampai memberikan stigma kurang beriman, kurang bersyukur, kurang ikhlas, kurang sabar, dan kurang-kurang lainnya. Itu semua tidak diajarkan dalam Al - Quran.
Al – Quran mengajarkan kepada mereka yang sehat untuk menemani yang sedang sakit, tidak hanya menemani, tetapi juga membantunya seperti mengajak makan, minum, menggembirakan hatinya serta membantu masalah hidupnya. Bukan sebaliknya justru menakut-nakuti dengan stigma kurang iman, pendosa, kufur nikmat, stigma - stigma tersebut justru merupakan perilaku orang-orang yang pernah mencemooh Bunda Maryam.
Sangat relevan jika ini menjadi ladang dakwah bagi organisasi Islam, umat Islam agar mengambil peran nyata karena ini juga bagian dari perintah Al Quran. Apalagi karakter ajaran Islam adalah senantiasa menggembirakan dan mengajak orang untuk optimis secara berjamaah.
Namun tidak perlu bersedih. Ada sebuah hadits yang dapat membesarkan hati orang-orang mukmin yang sedang sakit. Abu Musa Al-Asy’ariy -raḍiyallāhu ‘anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seorang hamba sakit atau melakukan perjalanan, maka akan dicatat baginya seperti amalan yang biasa ia lakukan ketika dalam keadaan mukim dan sehat.” (HR Bukhari)
Penyakit bisa datang kepada siapapun karena itu atas izin Allah, tidak peduli profesi, jabatan, kaya, atau miskin, orang yang rajin beribadah pun bisa sakit. Orang dermawan pun juga sama namun sakit bagi orang-orang shalih adalah tanda kecintaan dari Allah bukan orang yang dibenci. Jadi sakit tidak selalu identik dengan kesalahan dan azab, ibarat sepasang kekasih yang sedang cubit-cubitan bukan rasa sakit tapi yang muncul adalah kasih sayang. Yang diuji juga bukan orang yang sedang sakit, tetapi juga orang disekitarnya.
Bagikan artikel ini:








