Menanam Iman, Memakmurkan Bumi
Oleh : Khilmi Zuhroni | Ketua Majelis Lingkungan Hidup Muhammadiyah Kotim
Di tengah krisis iklim yang semakin nyata, pertanyaan penting yang harus dijawab dunia pendidikan bukan lagi sekadar bagaimana mencetak siswa yang cerdas, melainkan bagaimana membentuk generasi yang mampu menjaga keberlanjutan kehidupan. Ketika banjir, kekeringan, pencemaran, dan tumpukan sampah menjadi bagian dari keseharian masyarakat, sekolah tidak boleh hanya menjadi tempat transfer pengetahuan. Sekolah harus menjadi ruang pembentukan kesadaran ekologis.
Dalam konteks itulah konsep Islamic Green School yang ditulis oleh tim penyusun buku yang dibentuk oleh Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (PWA) Jawa Barat, yang terdiri dari: LLHPB PWA Jawa Barat, Majelis PAUD Dasar dan Menengah PWA Jawa Barat, dan ‘Aisyiyah Boarding School Bandung, bekerjasama dengan Eco Bhinneka Muhammadiyah/ JISRA dan 1000 Cahaya/ ViriyaENB, tahun 2025 ini menjadi relevan.
Gagasan ini menawarkan pendekatan pendidikan yang tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan tentang lingkungan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai keagamaan sebagai fondasi perilaku ramah lingkungan. Konsep tersebut berangkat dari keyakinan bahwa menjaga alam bukan sekadar aktivitas sosial, melainkan bagian dari ibadah dan tanggung jawab manusia sebagai khalifah di muka bumi.
Selama ini, isu lingkungan sering dipandang sebagai urusan aktivis, pemerintah, atau lembaga internasional. Padahal, akar persoalan lingkungan sesungguhnya berada pada perilaku manusia sehari-hari. Sampah yang dibuang sembarangan, penggunaan plastik sekali pakai, pemborosan energi, hingga eksploitasi sumber daya alam berlebihan merupakan cerminan dari rendahnya kesadaran ekologis masyarakat. Karena itu, perubahan perilaku harus dimulai sejak usia dini melalui pendidikan.
Buku Islamic Green School mengingatkan bahwa dunia sedang menghadapi berbagai ancaman lingkungan yang serius. Indonesia masih bergulat dengan persoalan sampah yang terus meningkat, kerusakan sumber daya alam, perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, hingga meningkatnya berbagai penyakit yang berkaitan dengan kualitas lingkungan. Ancaman tersebut bukan sekadar isu masa depan, melainkan realitas yang sudah dirasakan masyarakat saat ini.
Di sinilah sekolah memiliki posisi strategis. Pendidikan lingkungan tidak cukup hanya menjadi materi tambahan dalam mata pelajaran tertentu. Ia harus menjadi budaya yang hidup dalam seluruh aktivitas sekolah. Islamic Green School menawarkan pendekatan yang lebih menyeluruh melalui empat pilar utama, yaitu green mind, green curriculum, green management, dan green activity.
Pilar pertama adalah green mind atau kesadaran hijau. Kesadaran ini menjadi fondasi seluruh gerakan lingkungan. Seorang siswa yang memiliki green mind akan membuang sampah pada tempatnya bukan karena takut dihukum, melainkan karena memahami bahwa menjaga kebersihan merupakan bagian dari tanggung jawab moral. Kesadaran tersebut harus tumbuh menjadi kebiasaan dan akhirnya menjadi budaya.
Pilar kedua adalah green curriculum. Lingkungan tidak diposisikan sebagai mata pelajaran yang berdiri sendiri, tetapi diintegrasikan ke dalam berbagai disiplin ilmu. Matematika dapat mengajarkan penghitungan jejak karbon, ilmu pengetahuan alam membahas konservasi sumber daya, sementara seni dapat mendorong kreativitas melalui pemanfaatan bahan daur ulang. Dengan pendekatan ini, siswa memahami bahwa isu lingkungan berkaitan dengan seluruh aspek kehidupan.
Pilar ketiga adalah green management. Sekolah menjadi contoh nyata bagaimana prinsip keberlanjutan diterapkan dalam tata kelola lembaga. Penghematan energi, pengurangan penggunaan kertas, pengelolaan sampah, hingga kebijakan kawasan bebas asap rokok merupakan bentuk nyata dari manajemen yang ramah lingkungan. Sekolah tidak hanya mengajarkan teori, tetapi menghadirkan praktik yang dapat diteladani peserta didik.
Pilar keempat adalah green activity, yaitu seluruh aktivitas sekolah yang berorientasi pada pelestarian lingkungan. Mulai dari bank sampah, kebun organik, pengomposan, penggunaan tumbler, hingga pengurangan sampah makanan. Kegiatan-kegiatan sederhana tersebut memiliki dampak besar dalam membentuk karakter siswa yang bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Yang membedakan Islamic Green School dengan konsep sekolah hijau pada umumnya adalah landasan spiritualnya. Dalam perspektif Islam, menjaga lingkungan merupakan manifestasi keimanan. Alam dipandang sebagai amanah Allah yang harus dijaga, bukan dieksploitasi tanpa batas. Karena itu, perilaku ramah lingkungan bukan sekadar pilihan gaya hidup, melainkan bentuk pengabdian kepada Sang Pencipta.
Pendekatan ini menjadi sangat penting di tengah kecenderungan pendidikan modern yang sering kali menitikberatkan pada capaian akademik semata. Padahal, masa depan tidak hanya membutuhkan manusia yang cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kecerdasan ekologis dan spiritual. Generasi yang mampu memahami hubungan antara iman, ilmu pengetahuan, dan keberlanjutan akan lebih siap menghadapi tantangan abad ke-21.
Lebih jauh, Islamic Green School tidak hanya memberi manfaat bagi siswa. Sekolah memperoleh identitas yang kuat sebagai lembaga pendidikan berkelanjutan. Guru terdorong untuk terus berinovasi. Masyarakat memperoleh inspirasi untuk menerapkan gaya hidup ramah lingkungan. Bahkan pemerintah diuntungkan karena sekolah menjadi mitra dalam menyebarluaskan pendidikan lingkungan kepada masyarakat luas.
Pada akhirnya, krisis lingkungan bukan semata persoalan teknologi atau kebijakan, melainkan persoalan karakter manusia. Solusi jangka panjangnya tidak cukup dengan membangun infrastruktur hijau atau menerbitkan regulasi baru. Yang lebih penting adalah membangun generasi yang memiliki kesadaran untuk mencintai bumi.
Jika sekolah mampu menanamkan nilai bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari ibadah, maka setiap pohon yang ditanam, setiap sampah yang dipilah, dan setiap tetes air yang dihemat akan menjadi investasi peradaban. Dari ruang-ruang kelas itulah lahir generasi yang tidak hanya cerdas membaca buku, tetapi juga bijak membaca tanda-tanda alam. Dan dari tangan merekalah masa depan bumi akan ditentukan.
Bagikan artikel ini:








