SAMPIT — Perayaan hari besar keagamaan yang berlangsung bersamaan pada bulan Maret tahun 2026 menjadi momentum penting bagi masyarakat untuk memperkuat nilai toleransi dan kerukunan antar umat beragama. Umat Hindu akan melaksanakan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948, sementara umat Islam merayakan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah. Kedua momen sakral ini diharapkan dapat menjadi pengingat bagi seluruh masyarakat untuk terus menjaga keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat.
Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Kotawaringin Timur, H. Mudlofar, SH., MM, mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan momentum hari raya keagamaan tersebut sebagai sarana mempererat persaudaraan, saling menghormati, dan menjaga kedamaian di tengah keberagaman.
“Perayaan Nyepi dan Idul Fitri yang waktunya bersamaan ini hendaknya menjadi momentum bagi kita semua untuk memperkuat kerukunan, saling menghormati, dan menjaga keharmonisan antarumat beragama,” ujar H. Mudlofar.
Menurutnya, masyarakat Kotawaringin Timur selama ini dikenal memiliki tradisi toleransi yang baik. Kondisi tersebut harus terus dipelihara agar kehidupan sosial tetap kondusif, aman, dan penuh rasa persaudaraan.
H. Mudlofar menegaskan bahwa setiap umat beragama memiliki cara masing-masing dalam menjalankan ibadah dan merayakan hari besar keagamaannya. Oleh karena itu, sikap saling menghormati menjadi kunci utama dalam menjaga keharmonisan kehidupan bermasyarakat.
Ia mengajak masyarakat untuk memberikan ruang dan penghormatan kepada umat Hindu yang melaksanakan Catur Brata Penyepian pada Hari Raya Nyepi, yang identik dengan suasana hening, sunyi, dan penuh perenungan. Di sisi lain, umat Islam juga diharapkan dapat merayakan Idul Fitri dengan penuh kebahagiaan tanpa mengganggu pelaksanaan ibadah umat agama lain.
“Nilai toleransi harus benar-benar kita jaga. Ketika saudara kita umat Hindu melaksanakan Nyepi, mari kita hormati suasana hening tersebut. Begitu pula ketika umat Islam merayakan Idul Fitri, kita rayakan dengan penuh kebersamaan dan tetap menjaga saling menghormati,” katanya.
Selain itu, Mudlofar juga menyampaikan pesan khusus kepada umat Islam, terutama apabila terjadi perbedaan dalam penetapan hari pelaksanaan Idul Fitri. Perbedaan tersebut, menurutnya, merupakan hal yang biasa dalam praktik keagamaan dan tidak seharusnya menjadi sumber perpecahan di tengah masyarakat.
“Perbedaan dalam penentuan 1 Syawal bisa saja terjadi karena perbedaan metode penetapan. Namun hal itu tidak perlu diperdebatkan secara berlebihan. Yang terpenting adalah menjaga ukhuwah Islamiyah serta saling menghargai perbedaan yang ada,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa perbedaan bukanlah sesuatu yang harus dipertentangkan, melainkan bagian dari dinamika kehidupan beragama yang harus disikapi dengan bijak dan penuh kedewasaan.
Lebih lanjut, Mudlofar berharap seluruh tokoh agama, tokoh masyarakat, serta unsur pemerintah daerah dapat terus bersinergi dalam menjaga suasana kondusif di Kotawaringin Timur, khususnya pada masa perayaan hari besar keagamaan.
“Peran tokoh agama dan tokoh masyarakat sangat penting dalam memberikan contoh kepada masyarakat. Dengan sikap yang menyejukkan, kita bisa menjaga harmoni di tengah keberagaman yang ada,” katanya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk memperkuat nilai gotong royong, persaudaraan, dan saling peduli sebagai fondasi utama kehidupan bermasyarakat di daerah yang majemuk.
Mudlofar berharap perayaan Nyepi dan Idul Fitri tahun ini tidak hanya menjadi momentum spiritual bagi masing-masing umat beragama, tetapi juga menjadi pengingat bahwa kerukunan adalah tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.
“Kerukunan adalah kekuatan kita sebagai bangsa. Mari kita jaga bersama agar Kotawaringin Timur tetap menjadi daerah yang damai, rukun, dan harmonis,” pungkasnya.
Bagikan artikel ini:








