Muhammadiyah lahir bukan semata dari rahim keulamaan, melainkan juga dari rahim kemandirian ekonomi. KH. Ahmad Dahlan, sang pendiri adalah seorang pedagang batik yang menggenggam Al-Quran di satu tangan dan buku perhitungan dagang di tangan lainnya. Sejak 18 November 1912, persyarikatan ini telah menumbuhkan spirit ekonomi sebagai tulang punggung dakwah. Lebih dari satu abad kemudian. Pertanyaan mendasar yang perlu dijawab bersama adalah “sudahkah Muhammadiyah mengoptimalkan potensi ekonomi kelas menengah yang menjadi tulang punggungnya?
Selanjutnya baca di : https://ibtimes.id/muhammadiyah-dan-potensi-ekonomi-kelas-menengah/
Bagikan artikel ini:








