Pemerintah Tak Tetapkan Bencana Nasional di Sumatera, Haedar Nashir: Jangan Berlarut dalam Debat

Khilmi Zuhroni
Khilmi ZuhroniPenulis
Tim Redaksi
Tim RedaksiEditor
21 Desember 2025Minggu, 02:38 WIB
34
Pemerintah Tak Tetapkan Bencana Nasional di Sumatera, Haedar Nashir: Jangan Berlarut dalam Debat

Foto:Haedar Nashir (Sumber: pwmjateng.com)

JAKARTA — Duka yang menyelimuti wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat akibat terjangan banjir bandang serta tanah longsor dalam beberapa pekan terakhir mulai memasuki fase transisi yang krusial. Meski air perlahan surut dan denyut nadi ekonomi mulai berdetak di pusat-pusat kota, tantangan di lapangan nyatanya masih menyisakan beban berat yang melampaui sekadar pembersihan sisa lumpur.

Hingga 18 Desember 2025, data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melukiskan skala kehancuran yang masif. Angka kematian telah melampaui 1.000 jiwa di tiga provinsi terdampak, dengan lebih dari 190 orang masih dinyatakan hilang. Di balik angka-angka tersebut, terdapat ratusan ribu pengungsi yang kini mulai menimbang langkah untuk kembali ke rumah yang mungkin tak lagi utuh.

Di Aceh, wilayah yang mencatat kerusakan paling parah, pemulihan berjalan lambat di area pedalaman. Kerusakan infrastruktur jalan dan jembatan akibat longsor membuat bantuan logistik sering kali terhambat sebelum sampai ke tangan warga. Padahal, pemulihan jaringan telekomunikasi telah mencapai 73 persen di Aceh dan hampir 99 persen di wilayah Sumatera lainnya, sebuah kontradiksi antara konektivitas digital dan aksesibilitas fisik.

Masalah kian pelik dengan munculnya ancaman kesehatan pascabencana. Laporan dari Sumatera Barat dan Sumatera Utara menunjukkan lonjakan kasus demam, myalgia (nyeri otot), infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), hingga gangguan pencernaan. Kondisi sanitasi di pengungsian yang belum sepenuhnya ideal menjadi bom waktu yang harus segera dijinakkan oleh pemerintah dan lembaga kemanusiaan.

Debat Status Bencana

Di tengah upaya pemulihan ini, keputusan pemerintah pusat untuk tidak menetapkan status Bencana Nasional memicu diskursus publik. Pemerintah memilih mempertahankan status Darurat Bencana Wilayah, sebuah langkah yang dinilai sebagian kalangan masyarakat sipil tidak sebanding dengan skala korban jiwa yang mencapai ribuan.

Kekecewaan ini terasa kental di Aceh. Tekanan sosial meningkat seiring tuntutan akan respons yang lebih masif dan terpusat. Perdebatan administratif ini dikhawatirkan dapat memperlambat aliran bantuan dan koordinasi di lapangan jika tidak segera dicarikan titik tengahnya.

Menanggapi polemik tersebut, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir memberikan perspektif yang menekankan pada aspek substansi ketimbang administratif. Baginya, keselamatan warga harus berada di atas perdebatan terminologi.

Haedar menegaskan dua poin krusial yang harus menjadi pegangan. Pertama, pemerintah dituntut untuk bekerja optimal dan cepat dalam menyelesaikan persoalan kedaruratan, terutama di kantong-kantong wilayah yang masih terisolasi.

Berita Terkait : Kader Nasyiah Kotim Bergabung dalam Tim Relawan KAWANMU untuk Rehabilitasi Psikososial Bencana Aceh–Sumatera

"Kegagalan menyediakan akses logistik, layanan kesehatan, dan kebutuhan dasar akan memperburuk keadaan masyarakat yang terdampak," ujarnya sebagaimana dikutip dari Republika.co.id.

Kedua, Haedar menyerukan soliditas kolektif. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan penanganan bencana bukan hanya diukur dari respons awal, melainkan dari kemampuan negara dan seluruh elemen bangsa—termasuk organisasi kemasyarakatan dan relawan—dalam memastikan aktivitas sosial-ekonomi masyarakat kembali normal. Berlarut-larut dalam debat status, menurut Haedar, hanya akan mengalihkan fokus dari aksi nyata di lapangan.

Kini, fokus besar tertuju pada percepatan pembukaan jalur transportasi strategis dan rencana pemukiman kembali (relokasi) bagi warga yang kehilangan tempat tinggal. Tantangan pemulihan ini memang berat, namun gerak cepat yang terkoordinasi antara kebijakan pemerintah dan ketangguhan lokal menjadi satu-satunya jalan keluar agar Sumatera tidak berlama-lama meratap di titik nadir.[]



Bagikan artikel ini:

Berita Terkait Lainnya

Lihat Semua →
PDNA Kotim Perkuat Mental Perempuan di Tengah Krisis Ekologis

PDNA Kotim Perkuat Mental Perempuan di Tengah Krisis Ekologis

PDNA Kotim Perkuat Mental Perempuan di Tengah Krisis Ekologis

Redaksi
Redaksi2 hari yang lalu
Tidak Boleh Bersikap Diam Ketika Amanah Publik Terancam

Tidak Boleh Bersikap Diam Ketika Amanah Publik Terancam

Tidak Boleh Bersikap Diam Ketika Amanah Publik Terancam

Redaksi
Redaksi05 Okt 2026
Kajian Ahad Pagi PCM Pahandut, Menginspirasi Warga Muhammadiyah

Kajian Ahad Pagi PCM Pahandut, Menginspirasi Warga Muhammadiyah

Kajian Ahad Pagi PCM Pahandut, Menginspirasi Warga Muhammadiyah

Redaksi
Redaksi05 Okt 2026
Muhammadiyah Kotim Salurkan 20.000 Liter Air Bersih ke Empat Titik

Muhammadiyah Kotim Salurkan 20.000 Liter Air Bersih ke Empat Titik

Keterbatasan air bersih membuat warga di sejumlah wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, harus mengandalkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari

Redaksi
Redaksi04 Okt 2026
Muhammadiyah Salurkan Bantuan Oxycan Untuk Relawan Karhutla Di Kalteng

Muhammadiyah Salurkan Bantuan Oxycan Untuk Relawan Karhutla Di Kalteng

Muhammadiyah Salurkan Bantuan Oxycan Untuk Relawan Karhutla Di Kalteng

Redaksi
Redaksi02 Okt 2026
Avatar
Mediamukalteng.com dengan motto "Da'wah News and Education" sebagai ikhtiar membangun masyarakat madani, harmonis dan berkeadaban.
Copyright © 2026 MediaMu Kalteng
Designed and Developed by Jinara Studio
Pemerintah Tak Tetapkan Bencana Nasional, Haedar Nashir