SAMPIT — Di antara tanaman rindang di halaman rumah Dr. H. Joni puluhan murid TK Aisyiyah 1 Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, tampak antusias memegang daun-daun kecil dengan tangan mereka. Selasa (26/5/2026), mereka bukan sedang bermain biasa, mereka tengah belajar menanam dengan menggunakan metode stek daun, sebuah teknik budidaya tanaman yang bahkan belum banyak dikenal kalangan dewasa sekalipun.
Kegiatan pembelajaran luar kelas ini merupakan hasil kolaborasi antara TK Aisyiyah 1 Sampit dan SMAS Muhammadiyah Sampit. Initinya adalah mengenalkan anak pada alam sejak usia dini, sekaligus menanamkan kepedulian terhadap lingkungan.
"Dengan menanam stek daun, anak-anak menganggapnya sebagai permainan baru. Sekaligus melatih saraf motorik mereka," ujar Dr. H. Joni, akademisi sekaligus peneliti yang aktif mengembangkan metode ini di SMAS Muhammadiyah Sampit.
Ini merupakan pertemuan kedua dalam rangkaian kegiatan serupa. Pada sesi pertama, dua pekan lalu, anak-anak dikenalkan cara menanam menggunakan biji dan stek pucuk. Pada pertemuan kedua ini, mereka naik level, belajar stek daun dan stek batang. Selain itu, mereka juga diperkenalkan teknik pruning atau pemangkasan buah agar tanaman dapat tumbuh lebih optimal.
Jenis tanaman yang digunakan pun beragam dan khas Kalimantan, mulai dari jambu air, ulin, manggis, kayu manis, hingga tanaman hoya, bunga hutan berbentuk menyerupai anggrek.
Dr. Joni menjelaskan, metode stek daun memiliki sejumlah keunggulan dibanding penanaman konvensional menggunakan biji. Selain meminimalkan sampah organik, teknik ini lebih fleksibel karena tidak perlu menunggu tanaman berbuah untuk mendapatkan benih. Daun sisa yang tidak digunakan sebagai stek pun masih bisa dimanfaatkan. Daun kayu manis misalnya, dapat diolah menjadi minuman herbal, sementara sisa tanaman lainnya bisa dijadikan kompos.
Kendati demikian, tidak semua tanaman cocok dengan metode ini. Tanaman yang dapat dikembangkan melalui stek daun umumnya berdaun tebal dengan kandungan minyak cukup tinggi, seperti manggis dan ulin. Untuk media tanam, dibutuhkan campuran yang lebih steril seperti sekam bakar, cocopeat, dan biochar, bukan menggunakan tanah biasa.
Kepala TK Aisyiyah 1 Sampit, Misda Masitah, menyambut baik kegiatan tersebut. Menurutnya, antusiasme anak-anak begitu terasa sejak awal kegiatan. "Alhamdulillah semua anak senang belajar cara tanam daun sama stek batang," tuturnya.
Misda menambahkan, kegiatan semacam ini adalah bagian dari upaya sekolah membawa pembelajaran keluar dari ruang kelas mendekatkan anak-anak pada alam secara langsung. Sebelumnya, TK Aisyiyah 1 juga rutin mengajak murid berkunjung ke taman kota dan taman bunga.
"Harapan ke depannya, supaya anak-anak lebih mencintai alam ciptaan Allah serta selalu menjaga lingkungan," kata Misda.
Dr. Joni sendiri mngungkapkan teknik ini telah ia kembangkan selama sekitar 10 tahun dan bahkan pernah menarik perhatian seorang profesor dari Jerman yang datang langsung untuk mempelajarinya. Menurutnya murid TK Aisyiyah 1 Sampit adalah, anak-anak TK yang barangkali pertama di dunia yang diajari metode stek daun dalam konteks pembelajaran anak usia dini.
Bagikan artikel ini:








