Dunia Tidak Benar-benar Berubah

Redaksi
RedaksiPenulis
Tim Redaksi
Tim RedaksiEditor
07 Januari 2026Rabu, 02:26 WIB
14
Dunia Tidak Benar-benar Berubah

Foto:Ilustrasi dunia yang tidak pernah berubah

Dunia Tidak Benar-benar Berubah

Sebuah Refleksi atas Kondisi Dunia yang Sejatinya Tetap Sama

Dunia terus berubah — ini adalah klaim yang hampir semua orang ulangi tanpa berpikir panjang. Setiap pagi kita buka ponsel dan mendapati berita baru tentang teknologi, politik, perang, ekonomi, atau skandal moral. Kita merasa hidup di era perubahan cepat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Namun, pada saat yang sama, kita sering tersandung pada kenyataan sederhana: betapa sifat dasar manusia dan pola perilaku sosial ternyata tak berubah banyak dari zaman ke zaman. Manusia sombong, congkak, menindas sesama, berlaku merusak, terjebak dalam keangkuhan moral dan kekuasaan — ini semua bukan fenomena baru, melainkan reprise dari drama manusia yang sudah berulang sepanjang sejarah.

Kita sering mengatakan “dulu lebih sederhana” atau “dulu lebih baik”, terutama ketika membandingkan kehidupan kita dengan masa sekarang. Ada benarnya, tetapi ini juga bagian dari ilusi yang mengaburkan pemahaman kita tentang realitas. Pada tahun 1960-an, orang mungkin berjalan kaki ke tempat kerja tanpa mengeluh. Berjalan kaki tidak dianggap sebagai sesuatu yang hina atau tanda kemiskinan; itu adalah bagian dari kehidupan normal. Ketika sepeda motor dan kendaraan pribadi muncul kemudian, keluhan muncul: “Berjalan kaki terlalu melelahkan,” “Tidak efisien,” atau “Ini menunjukkan kemunduran.” Tradisi sederhana dan kebutuhan biologis kita menjadi diselimuti penilaian sosial baru tentang apa itu “kemajuan”. Namun, di balik semua itu, hakikat manusia tetap sama: kita selalu mencari cara agar hidup lebih mudah dan nyaman, sekaligus cenderung cepat meremehkan apa yang sebelumnya dianggap biasa. Ini bukan perubahan substansial dalam jiwa manusia, melainkan hanya perubahan konteks teknologi dan budaya yang dibicarakan secara dramatis.

Perubahan itu nyata — teknologi berkembang, batas-batas geografis menjadi kabur, kota-kota tumbuh pesat, dan informasi menyebar hampir tanpa hambatan. Tapi jika kita menyelami lebih dalam, pola interaksi manusia tetap berulang: sama seperti dulu ada yang dominan dan yang tertindas, kini pun ada. Pola kekuasaan, penindasan, korupsi, konflik, dan manipulasi sosial terus berputar seperti roda sejarah yang tak pernah benar-benar berhenti. Setiap tahun juga berganti antara apa yang kita sebut “penjahat” dan “penyelamat”; satu generasi memuja pahlawan mereka, generasi berikutnya mengutuk mereka. Ini bukan sekadar anekdot — ini bagian dari apa yang dalam filsafat disebut eternal return, gagasan bahwa segala sesuatu berulang dalam lingkar waktu yang tak berujung.

Contoh yang sangat kontemporer menyentuh aspek ini ialah hubungan antarnegara besar. Baru-baru ini, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memerintahkan operasi militer yang mengejutkan dunia dengan menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan membawanya ke pengadilan di New York. Banyak pihak di berbagai negara menyebut tindakan itu sebagai penculikan atau intervensi brutal, karena sebuah negara secara sepihak menculik pemimpin negara lain — sebuah tindakan yang terdengar seperti adegan film atau novel fiksi, namun terjadi nyata di depan mata kita. Kejadian ini menunjukkan bahwa negara pun bisa berperilaku seperti mafia besar di panggung global, di mana hukum internasional dan norma digeser oleh logika kekuasaan dan kepentingan strategis.

Kita merasa dunia telah berubah dramatik ketika membaca berita seperti ini, tetapi pola dasarnya tidak asing: kuat menindas lemah, kekuasaan menindas kedaulatan, propaganda menggantikan moralitas, dan kekerasan dibungkus sebagai “kebutuhan strategis”. Ini bukan dinamika baru; ini adalah ulang tayang dari sejarah panjang umat manusia. Dalam buku-buku sejarah pun kita melihat banyak kerajaan besar menaklukkan yang kecil, imperium mendikte aturan pada bangsa lain, dan dominasi ekonomi dipakai sebagai alat kekuasaan. Bahkan di tingkat individu, cerita tentang ego dan keserakahan terus dipentaskan ulang.

Ironisnya, semakin banyak perubahan teknologi, semakin kita merasa dunia telah bergerak jauh dari masa lampau. Kita bicara tentang kecerdasan buatan, revolusi digital, eksplorasi luar angkasa — hal-hal yang benar-benar baru. Namun dalam ranah moral dan sosial, perubahan sering terasa lebih sebagai “ilusi” daripada transformasi sejati. Kita mendeskripsikan situasi masa kini dengan istilah baru, tetapi substansi perilaku seringkali tampak seperti versi yang dimodernisasi dari pola yang sama.

Kenyataan semacam declinism memperkuat kecenderungan ini: kita sering percaya bahwa sesuatu semakin memburuk, padahal kita melihat dunia melalui kacamata nostalgia yang memperindah masa lalu dan mengaburkan kekurangan zaman itu sendiri. Pandangan ini membawa kita ke paradoks: kita menyangka dunia berubah tajam, padahal kita lupa bahwa motif dasar tindakan manusia tetap sering sama. Kita mengkristalkan era kita sebagai “unprecedented” sementara tak sadar bahwa banyak pola kekuasaan, konflik, dan ketimpangan yang kita saksikan terjadi serupa dengan apa yang dicatat sejarawan berabad lalu.

Sejarah seharusnya tidak hanya menjadi daftar kejadian yang berlalu, tetapi cermin yang menampilkan ulang motif dan jiwa manusia. Ada yang sombong, ada yang congkak, ada yang berkuasa secara merusak, dan selalu ada mereka yang menjadi korban. Dunia tidak benar-benar berubah dalam hal ini. Yang berubah hanyalah cara kita mengatakannya, kerangka waktunya, alat dan istilahnya.

Kita perlu menyadari bahwa perubahan bisa bersifat permukaan atau simbolik — tapi transformasi sejati harus lahir dari perubahan moral dan struktural yang mendalam. Tanpa itu, kita hanya akan terus menjalankan drama lama dalam set yang berbeda. Dunia mungkin berputar terus, tapi pola-pola dasar manusia sering menyusup di balik tirai modernitas. Mengakui ini bukan berarti menjadi pesimistis, tetapi menjadi realistis — mengenali siklus agar kita bisa memutusnya dan menapak ke tahap keberlanjutan yang benar-benar baru, bukan hanya repetisi dari masa lalu.

[KHILMI ZUHRONI]

Avatar
Mediamukalteng.com dengan motto "Da'wah News and Education" sebagai ikhtiar membangun masyarakat madani, harmonis dan berkeadaban.
Copyright © 2026 MediaMu Kalteng
Designed and Developed by Jinara Studio
(REFLEKSI) Dunia Tidak Benar-Benar Berubah