KETIKA IBU RUMAH TANGGA INGIN KEMBALI KULIAH
(Pendidikan Perempuan, Inklusivitas Gerakan, dan Jalan Pengabdian di Momentum Hari Ibu)
Oleh: Ainnur Rahimah
(Penulis adalah Kader Nasyiatul Aisyiyah, Mahasiswi Program S1 Psikologi Universitas Merdeka Malang semester IX, Sebagai Ibu dari 4 anak)
HARI IBU sering kali diperingati dengan ungkapan kasih sayang, bunga, dan kata-kata manis tentang pengorbanan seorang perempuan. Namun di balik perayaan simbolik itu, ada pertanyaan mendasar yang jarang diajukan secara jujur: sejauh mana negara, masyarakat, dan bahkan gerakan perempuan sendiri sungguh-sungguh memberi ruang bagi ibu untuk tumbuh, belajar, dan berkembang sebagai subjek yang utuh?
Bagi sebagian ibu rumah tangga (IRT), terutama mereka yang telah lama menikah dan memiliki anak, keinginan untuk kembali menempuh pendidikan tinggi bukanlah sekadar ambisi personal. Ia lahir dari kesadaran mendalam bahwa menjadi ibu tidak cukup hanya bermodal cinta dan pengorbanan, tetapi juga membutuhkan pengetahuan, kemampuan berpikir kritis, dan daya refleksi yang terus diasah. Sayangnya, keinginan ini sering kali berhadapan dengan realitas yang tidak ramah: keterbatasan ekonomi, beban ganda, stigma sosial, serta sistem pendidikan yang belum sepenuhnya inklusif.
Banyak perempuan dewasa menyimpan mimpi kuliah sejak muda. Namun keterbatasan ekonomi keluarga memaksa mereka berhenti di jenjang SMA. Seiring waktu, mereka menikah, memiliki anak, dan menjalani peran domestik sepenuhnya. Mimpi kuliah tidak hilang, hanya tertunda. Ketika anak-anak mulai tumbuh dan kesadaran akan pentingnya pendidikan kembali menguat, keinginan itu muncul lagi—kali ini dengan alasan yang lebih matang: menjadi ibu yang lebih berpengetahuan, pendidik pertama yang lebih sadar, dan manusia yang terus bertumbuh.
Dalam Islam dan tradisi keilmuan Muhammadiyah, perempuan dipahami sebagai madrasatul ula, sekolah pertama bagi anak-anaknya. Konsep ini bukan sekadar jargon moral, tetapi mengandung konsekuensi serius: kualitas ibu sangat menentukan kualitas generasi. Pendidikan ibu berpengaruh langsung terhadap pola asuh, nilai yang ditanamkan, cara berpikir anak, hingga ketahanan keluarga dalam menghadapi krisis sosial dan ekonomi. Maka, ketika seorang ibu ingin belajar kembali, sesungguhnya ia sedang berikhtiar membangun masa depan keluarganya.
Namun realitas struktural sering kali tidak berpihak. Sistem pendidikan tinggi dan skema beasiswa di Indonesia masih lebih banyak berorientasi pada lulusan SMA yang muda, lajang, dan dianggap “produktif secara ekonomi” di masa depan. Perempuan dewasa, terlebih ibu rumah tangga yang belum pernah menempuh pendidikan S1, berada di posisi yang tidak diuntungkan. Mereka seolah dianggap sudah “selesai” dengan pendidikan, padahal semangat belajar tidak pernah mengenal batas usia.
Di sisi lain, ibu rumah tangga yang ingin kuliah juga menghadapi tantangan situasional yang berat. Beban ganda antara peran domestik dan akademik menuntut energi fisik dan mental yang tidak kecil. Mengurus anak, rumah, kehamilan, persalinan, hingga kebutuhan emosional keluarga berjalan beriringan dengan tugas kuliah, diskusi, dan tuntutan akademik. Tanpa dukungan sistem yang fleksibel dan kebijakan yang sensitif gender, perjuangan ini sering kali menjadi sangat melelahkan.
Tantangan tidak berhenti di situ. Banyak ibu yang kembali kuliah harus berhadapan dengan perbedaan generasi di kampus. Mayoritas mahasiswa berasal dari generasi Z yang tumbuh dalam budaya digital, ritme cepat, dan pola komunikasi yang berbeda. Bagi mahasiswa dewasa, adaptasi ini bukan perkara mudah. Cara belajar, dinamika diskusi, hingga kerja kelompok sering kali memunculkan rasa tertinggal, minder, bahkan kesepian akademik. Bukan karena kurang cerdas, tetapi karena sistem belum sepenuhnya ramah terhadap keberagaman pengalaman hidup.
Dalam kondisi tertentu, tekanan ini diperberat oleh situasi ekonomi keluarga yang belum stabil. Biaya pendidikan, kebutuhan anak, dan tanggung jawab rumah tangga memaksa ibu untuk membuat pilihan-pilihan sulit. Tidak sedikit yang akhirnya mengambil cuti kuliah, menunda studi, atau bahkan berhenti sepenuhnya. Keputusan ini kerap disalahpahami sebagai kurangnya komitmen, padahal sejatinya merupakan strategi bertahan agar keluarga tetap utuh dan sehat.
Pengalaman ini menunjukkan bahwa persoalan pendidikan perempuan dewasa bukanlah persoalan individual, melainkan persoalan struktural. Ia berkaitan dengan kebijakan, desain sistem pendidikan, serta cara masyarakat memandang peran perempuan. Selama ibu rumah tangga masih diposisikan semata sebagai pelaku domestik atau objek pemberdayaan ekonomi informal, selama itu pula pendidikan perempuan akan selalu berada di pinggir.
Dalam konteks inilah, momentum Hari Ibu seharusnya dimaknai lebih dalam. Hari Ibu bukan sekadar perayaan pengorbanan, tetapi ruang refleksi kritis: apakah ibu diberi kesempatan untuk tumbuh sebagai subjek yang berpengetahuan? Apakah sistem pendidikan telah adil dan inklusif bagi perempuan di berbagai fase kehidupan? Apakah negara dan gerakan sosial benar-benar mengakui pendidikan perempuan sebagai investasi jangka panjang?
Spirit ini sejalan Ideologi dan Inklusivitas Gerakan Perempuan Berkemajuan. Perempuan berkemajuan tidak lahir dari ruang yang seragam. Ia tumbuh dari pengalaman yang beragam: perempuan muda, perempuan desa, perempuan pekerja, dan juga ibu rumah tangga. Inklusivitas gerakan berarti membuka ruang belajar, kepemimpinan, dan kaderisasi bagi seluruh spektrum pengalaman perempuan, termasuk mereka yang kembali belajar di usia dewasa.
Islam Berkemajuan yang menjadi landasan gerakan Nasyiatul Aisyiyah menempatkan ilmu sebagai jalan pembebasan dan pengabdian. Menuntut ilmu tidak dibatasi usia, status pernikahan, maupun peran domestik. Sebaliknya, semakin kompleks tanggung jawab seseorang, semakin besar kebutuhan akan ilmu dan kesadaran kritis. Oleh karena itu, mendukung pendidikan ibu rumah tangga sejatinya adalah bagian dari ikhtiar ideologis, bukan sekadar kebijakan teknis.
Sudah saatnya ada keberpihakan nyata melalui kebijakan afirmatif. Beasiswa khusus bagi ibu rumah tangga yang ingin melanjutkan pendidikan S1, sistem perkuliahan yang fleksibel, dukungan psikososial, serta pengakuan atas pengalaman hidup sebagai modal belajar adalah langkah-langkah yang mendesak. Ini bukan bentuk ketidakadilan bagi generasi muda, melainkan keadilan struktural bagi mereka yang selama ini tertinggal karena kondisi sosial dan ekonomi.
Lebih jauh, pendidikan ibu rumah tangga memiliki dampak berlipat. Ia tidak hanya meningkatkan kapasitas individu, tetapi juga memperkuat ketahanan keluarga, membangun budaya belajar di rumah, dan melahirkan generasi yang lebih sadar nilai. Ketika seorang ibu belajar, ia sedang mengajarkan pada anak-anaknya bahwa belajar adalah proses seumur hidup, bahwa mimpi boleh tertunda tetapi tidak harus mati.
Sebagai ibu rumah tangga yang kembali ke bangku kuliah, saya meyakini bahwa pendidikan adalah jalan pengabdian. Ia bukan sekadar upaya meraih gelar, tetapi ikhtiar membangun diri agar lebih bermakna bagi keluarga dan masyarakat. Di tengah keterbatasan ekonomi, perbedaan generasi, dan beban domestik, semangat belajar adalah bentuk perlawanan sunyi terhadap sistem yang sering kali tidak adil bagi perempuan.
Hari Ibu seharusnya menjadi pengingat bahwa perempuan bukan hanya layak dipuji karena pengorbanannya, tetapi juga layak didukung dalam perjuangannya untuk tumbuh. Jika bangsa ini sungguh ingin membangun generasi emas, maka mendidik para ibu adalah langkah strategis yang tidak bisa ditunda. Pendidikan perempuan bukan beban, melainkan investasi peradaban.
SELAMAT HARI IBU 2025
HAPPY MOTHER'S DAY 2025



