MALANG — Korps Relawan Muhammadiyah (KAWANMU) kembali menyiapkan kekuatan kemanusiaan untuk merespons wilayah-wilayah rawan bencana di Indonesia. Pada hari ketiga (terakhir) pelatihan Relawan Psikososial KAWANMU Batch II yang digelar di Malang, Jawa Timur pada ahad (21/12/2025), panitia melakukan pembagian tim relawan yang akan diterjunkan ke tiga provinsi, yakni Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh.
Untuk Batch II yang mengikuti pelatihan di Jawa Timur ini, tercatat sebanyak 47 relawan terlibat. Mereka dibagi ke dalam enam kelompok kerja yang disesuaikan dengan lokasi penugasan. Sumatera Barat mendapat dua kelompok, Sumatera Utara dua kelompok, dan Aceh dua kelompok. Setiap kelompok terdiri atas delapan hingga sembilan orang relawan dengan latar belakang keahlian yang beragam.
Selain Batch II di Jawa Timur, KAWANMU sebelumnya juga telah menyiapkan relawan Batch I yang berbasis di Jakarta. Seluruh relawan nantinya akan diberangkatkan dari daerah masing-masing menuju bandara di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh sesuai dengan titik tugas yang telah ditentukan.
Berita Terkait : Pemerintah Tak Tetapkan Bencana Nasional di Sumatera, Haedar Nashir: Jangan Berlarut dalam Debat
Sebagaimana dilansir dari Klikmu.co, Ketua Satgas Nasional KAWANMU, M. Arif An, menegaskan bahwa pembentukan KAWANMU dilatarbelakangi oleh meningkatnya intensitas bencana alam di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Menurut dia, Muhammadiyah perlu menyiapkan relawan yang tidak hanya sigap secara fisik, tetapi juga memiliki kapasitas pendampingan psikososial berbasis komunitas.
“Korps Relawan Muhammadiyah (KAWANMU) hadir sebagai respons strategis atas amanat Rakernas MPKS 2025 dan sebagai aktualisasi teologis dari Surah Al-Ma’un. KAWANMU dimaknai sebagai manifestasi revitalisasi gerakan kesejahteraan sosial Muhammadiyah yang berfokus pada penguatan layanan berbasis komunitas atau grassroots,” ujar Arif An, yang juga menjabat Tenaga Ahli Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT).
Ia menambahkan, dalam kondisi negeri yang rawan bencana, keberadaan tim pendamping psikososial menjadi kebutuhan mendesak, terutama untuk membantu penyintas menghadapi dampak psikologis pascabencana.
Sementara itu, Ketua Majelis Pelayanan Kesejahteraan Sosial (MPKS) PP Muhammadiyah, Dr. Mariman Darto, S.E., M.Si., mengingatkan bahwa setiap relawan KAWANMU membawa mandat moral dan nama besar Persyarikatan Muhammadiyah dalam setiap misi kemanusiaan. Karena itu, relawan dituntut mampu merespons situasi bencana secara cepat, tepat, dan beretika.
“Relawan bukan hanya membantu secara fisik, tetapi juga memulihkan harapan, ketenangan, dan semangat para penyintas, khususnya anak-anak, lansia, dan penyandang disabilitas. KAWANMU adalah duta Muhammadiyah di lokasi bencana dan harus menjadi teladan,” tegas Mariman.
Ia menjelaskan, dampak bencana sering kali memicu trauma psikologis seperti kecemasan, depresi, hingga gangguan stres pascatrauma. Untuk itu, relawan dibekali kemampuan sebagai pendamping, pembimbing, sekaligus motivator bagi para penyintas.
Sebelum mengikuti pembekalan, seluruh relawan telah menjalani asesmen kesehatan dan kesiapan interaksi dengan korban. Materi pelatihan meliputi *Life Development Program* (LDP), *Psychological First Aid* (PFA), konseling, terapi bermain dan mendongeng, hingga hipnoterapi. Narasumber berasal dari unsur MDMC, IHC, MPKS, serta perwakilan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dan Kementerian Sosial.
Pemberangkatan Relawan Psikososial KAWANMU Tahap II direncanakan mulai awal Januari 2026. Melalui pembekalan ini, MPKS PP Muhammadiyah berharap KAWANMU tumbuh sebagai kekuatan relawan yang profesional, berkarakter Al-Ma’un, dan siap melayani kemanusiaan di seluruh penjuru Indonesia. []
Baca Juga : Kader Nasyiah Kotim Bergabung dalam Tim Relawan KAWANMU untuk Rehabilitasi Psikososial Bencana Aceh–Sumatera
Bagikan artikel ini:








