KAPUAS - Ketika manusia salah memperhitungkan alam dan harus berhadapan dengan akibat pilihannya. Alam memiliki hukum dan batasan sendiri . Manusia tidak mampu menghilangkan seluruh resiko, tatapi dapat memperkecil ataupun memperbesar dampak cara membangun, mengelola lingkungan.
Muhasabah (introspeksi diri) tidak selesai pada rasa takut dan penyesalan. Kalau ada yang salah, sesuatu harus diperbaiki. Jika kerusakan lahir dari keserakahan, cara memperlakukan alam perlu untuk berubah. Jika keselamatan dikalahkan kepentingan, prioritas harus ditata ulang.
Demikian disampaikan Wakil Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Selat, H.Sapto Subagio, Jumat (18/9/2026).
Diuraikan Sapto, keimanan kepada takdir tidak menghapus ikhtiar. Kita memang perlu mencegah seluruh peristiwa alam, tetapi diberi akal dan ilmu untuk mengenali risiko, mempersiapkan diri, serta mengurangi dampaknya.
Muhasabah juga tidak hanya berlaku kepada yang tertimpa musibah.Ketika seseorang diuji dengan kehilangan, orang yang masih memiliki banyak hal yang diuji dengan kepedulian
Iman tidak hanya terlihat dari kemampuan menjelaskan hikmah musibah, tetapi juga dari kesediaan untuk hadir. Ada kalanya bantuan makanan, bantuan tenaga, atau pendampingan lebih dibutuhkan dari pada penjelasan yang panjang tentang mengapa penderitaan terjadi.
Muhasabah tidak harus menunggu kehidupan mengguncang kita. Hari yang tenang justru memberi ruang terbaik untuk berbenah.
Musibah tidak semestinya menjadi kesempatan untuk mengadili mereka yang sedang menderita, musibah dapat dipahami sebagai ujian dan ketetapan Allah yang tetap berada dalam cakupan kasih sayangnya.
Musibah bencana alam kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berdampak timbulnya asap yang sedang dialami kita saat ini seharusnya menjadi sebuah muhasabah massal bagi kita semua. Karhutla yang mengakibatkan timbulnya asap tebal ,sebagai bagian takdir yang datang dari Allah, juga merupakan konsekuensi dari perbuatan manusia , pungkas Sapto
Bagikan artikel ini:








