SAMPIT – Kepedulian terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur terus mengalir.
Di tengah kabut asap yang menyelimuti Sampit dan musim kemarau panjang yang berlangsung sejak Juli 2026, keluarga besar SD Muhammadiyah Sampit menggalang aksi kemanusiaan bertajuk “Aksi Bersama Muhammadiyah Tanggap Bencana Karhutla dan Kekeringan.”
Program yang digelar bersama Lazismu Kotawaringin Timur, Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), dan Muhammadiyah Response ini berhasil menghimpun bantuan berupa uang tunai dan berbagai kebutuhan pokok untuk membantu petugas karhutla.
Total pengumpulan donasi mencapai Rp 2.330.000, terdiri atas uang tunai Rp930 ribu dan transfer Rp1,4 juta. Selain itu, donatur juga menyumbangkan air mineral, minuman kemasan, minuman isotonik, vitamin C-1000, susu, roti, mie instan, sarden, gula, hingga minuman elektrolit.
Aksi tersebut lahir sebagai respons atas kondisi Kotawaringin Timur yang mengalami peningkatan titik panas dan kebakaran lahan sepanjang Juli hingga September 2026.
Kemarau lebih dari tiga bulan menyebabkan sejumlah wilayah mengalami kekeringan, kualitas udara memburuk, dan aktivitas masyarakat terganggu. Pemerintah pusat bahkan mengerahkan penanganan terpadu karhutla di Kalimantan, termasuk Kalimantan Tengah, karena meningkatnya luas kebakaran dan dampak kabut asap.
Kepala SD Muhammadiyah Sampit Mardiyah Siregar, S.Pd., M.Pd.Gr. mengatakan gerakan ini bukan sekadar mengumpulkan bantuan, tetapi juga menjadi pendidikan karakter bagi siswa agar memiliki empati terhadap sesama dan kepedulian terhadap lingkungan.
“Kami ingin anak-anak belajar bahwa musibah bukan hanya untuk disaksikan, tetapi harus direspons dengan aksi nyata. Setiap rupiah dan setiap paket bantuan adalah wujud kepedulian keluarga besar SD Muhammadiyah Sampit petugas dan relawan karhutla.” ujar Mardiyah.
Menurutnya, seluruh elemen sekolah terlibat dalam gerakan tersebut, mulai dari guru, siswa, orang tua, hingga masyarakat sekitar. Semangat gotong royong menjadi nilai utama yang ingin ditanamkan kepada peserta didik sejak dini.
“Pendidikan Muhammadiyah tidak berhenti di ruang kelas. Anak-anak harus dibiasakan peduli terhadap persoalan sosial dan lingkungan. Karhutla mengajarkan kita pentingnya menjaga alam sekaligus saling membantu ketika bencana datang,” tambahnya.
Bantuan yang dihimpun selanjutnya akan disalurkan melalui jaringan Lazismu dan MDMC Kotawaringin Timur kepada masyarakat yang paling membutuhkan, termasuk relawan penanganan karhutla dan warga di wilayah terdampak kekeringan.
Karhutla tahun ini memberi dampak luas di Kotawaringin Timur. Asap pekat beberapa kali menyelimuti Kota Sampit sehingga mengurangi jarak pandang dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi anak-anak dan lansia. Kondisi tersebut juga mendorong berbagai sekolah Muhammadiyah di Sampit menggelar kegiatan kemanusiaan dan doa bersama sebagai bentuk ikhtiar menghadapi bencana.
Mardiyah berharap gerakan solidaritas ini terus bertambah melalui dukungan masyarakat. Ia mengajak siapa pun yang memiliki rezeki untuk ikut membantu korban karhutla dan kekeringan.
“Sekecil apa pun bantuan yang diberikan akan sangat berarti bagi mereka yang sedang berjuang menghadapi dampak bencana. Semoga menjadi amal jariyah dan menghadirkan keberkahan bagi para donatur,” tuturnya.
Bagikan artikel ini:








