Sampit, 4 September 2026 — Di tengah tanah yang mengering dan langit yang lama tak menurunkan hujan, warga Muhammadiyah Kotawaringin Timur berkumpul dalam suasana penuh khidmat untuk melaksanakan Shalat Istisqa, Jumat (4/9).
Bertempat di Halaman Kampus 1 Universitas Muhammadiyah Sampit (UMSA), kegiatan ini diikuti oleh warga Muhammadiyah, pimpinan dan warga Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), para guru, dosen, karyawan, serta siswa dan mahasiswa dari sekolah dan perguruan tinggi Muhammadiyah.
Shalat Istisqa dilaksanakan dengan Bapak Najmi, S.Hut. sebagai imam, sementara Bapak Dr. Alivermana Wiguna bertindak sebagai khatib.
Dalam khotbahnya, Dr. Alivermana Wiguna mengajak jamaah untuk menjadikan kondisi kemarau dan kekeringan yang terjadi sebagai momentum untuk kembali bermuhasabah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Kekeringan, menurutnya, menjadi pengingat bahwa manusia memiliki keterbatasan. Manusia mampu membangun dan mengelola sumber daya, bahkan mengubah banyak hal di bumi, tetapi tidak mampu membasahi tanah yang gersang dengan kekuatannya sendiri dan tidak mampu menurunkan setetes hujan dari langit.
Karena itu, Shalat Istisqa bukan sekadar ikhtiar memohon turunnya hujan. Lebih jauh, ia menjadi ruang untuk mengakui kelemahan diri, memperbanyak istighfar, bertaubat, dan berharap kepada Allah SWT.
“Semoga Allah segera memberkahi kita dengan hujan yang membawa rahmat, bukan sekadar membasahi tanah, tetapi juga menyuburkan kehidupan dan menghadirkan keberkahan bagi seluruh negeri.”
Pesan khotbah juga mengingatkan bahwa taubat tidak berhenti pada penyesalan dan permohonan ampun. Taubat harus melahirkan perubahan. Ketika hujan kelak turun, hendaknya ia menjadi titik awal untuk menjadi pribadi yang lebih baik, memperbaiki rasa syukur, memperbaiki perilaku, serta semakin peduli terhadap lingkungan.
Menjaga lingkungan menjadi bagian penting dari makna taubat tersebut. Sebab, manusia tidak hanya diminta memperbaiki hubungan dengan Allah, tetapi juga menjaga amanah-Nya berupa bumi dan seluruh kehidupan di dalamnya.
Hari ini, kekeringan seakan sedang mengajarkan sebuah pelajaran sederhana namun mendalam: ketika tanah kehilangan air, manusia baru benar-benar menyadari betapa berharganya setetes hujan.
Maka, tangan-tangan yang terangkat dalam doa pagi itu bukan hanya memohon hujan, tetapi juga memohon agar hati manusia kembali basah oleh iman, rasa syukur, kepedulian, dan kesadaran untuk menjaga bumi.
Shalat Istisqa menjadi ikhtiar spiritual sekaligus panggilan untuk berbenah. Memohon hujan kepada Allah, sembari memperbaiki apa yang menjadi tanggung jawab manusia di bumi.
Semoga Allah SWT mengabulkan doa seluruh jamaah, menurunkan hujan yang cukup, bermanfaat, penuh rahmat dan keberkahan, serta menjadikan momentum kekeringan ini sebagai jalan lahirnya kesadaran baru: menjadi manusia yang lebih baik, lebih bersyukur, dan lebih bertanggung jawab menjaga lingkungan.
Bagikan artikel ini:








