Menakar Ulang "Kewajiban Dakwah" di Era Kerja Anak Muda

Redaksi
RedaksiPenulis
Tim Redaksi
Tim RedaksiEditor
10 Juni 2026Rabu, 01:00 WIB
84
Menakar Ulang "Kewajiban Dakwah" di Era Kerja Anak Muda

Foto:Ilustrasi oleh Muhammad Hasan (Pixabay)

Menakar Ulang "Kewajiban Dakwah" di Era Kerja Anak Muda

Oleh : Khilmi Zuhroni | Ketua Korp Muballigh Muhamamdiyah PDM Kotim

Salah satu kewajiban sebagai seorang muslim adalah: dakwah. Apa yang terlintas di kepalamu? Berdiri di atas mimbar memakai jubah sambil memegang mikrofon?

Kalau itu definisinya, wajar saja kalau Gen Z yang terkenal dengan budaya work-life balance dan fleksibilitasnya langsung merasa relate-nya drop ke angka nol. Namun, benarkah dakwah sekaku itu?

Mari kita bedah ulang secara ilmiah dan populer. Di era digital, dakwah bukan lagi soal memonopoli kebenaran secara verbal, melainkan sebuah bentuk transfer of knowledge dan pembentukan ekosistem kerja yang sehat. Mengapa ini menjadi wajib, dan bagaimana menerapkannya tanpa bikin rekan kerja ilfeel (hilang feeling)? Berikut ulasannya.

Dakwah Bukan Pilihan, tapi "Fitur Bawaan" Setiap Muslim

Dalam kacamata sosiologi agama, dakwah sering kali disalahpahami hanya sebagai profesi. Padahal, secara normatif, dakwah adalah default mode atau fitur bawaan dari kartu identitas seorang muslim. Kewajiban ini berakar kuat pada teks-teks autentik Islam.

Salah satu fondasi utamanya ada dalam Al-Qur'an:

"Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang munkar..." (Q.S. Ali 'Imran [3]: 110)

Kata "umat terbaik" di sini tidak datang gratis tanpa syarat. Predikat itu melekat karena adanya fungsi social control, yakni: mengajak pada kebaikan (makruf) dan mencegah keburukan (munkar).

Rasulullah SAW juga menyederhanakan kewajiban ini agar bisa dieksekusi oleh siapa saja, lewat sebuah hadis riwayat Imam Bukhari:

"Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat."

Secara garis besar "satu ayat" di sini berarti kompetensi minimal yang kita miliki. Kamu tidak harus menjadi kiai atau ustaz kondang bergelar doktor untuk berbagi kebaikan. Jika kamu tahu satu hal yang benar dan bermanfaat, menyampaikannya sudah menjadi bagian dari tugas kemanusiaanmu.

Dakwah Kultural: Vibe Check di Lingkungan Kerja

Bagi Gen Z yang mendominasi angkatan kerja saat ini, pendekatan konvensional yang bersifat ceramah searah sering kali memicu resistensi psikologis. Di sinilah dakwah kultural mengambil peran. Dakwah kultural adalah metode penyampaian nilai-nilai Islam dengan melebur ke dalam budaya tanpa kehilangan esensi religiusnya.

Di lingkungan kerja, baik itu di co-working space, kantor perusahaan, maupun industri kreatif, dakwah kultural ada dalam bentuk etos kerja dan integritas. Di lingkungan aktivitas sehari-hari dakwah kultural berarti perilaku baik (jujur, sopan santun, toleransi, gotong royong, amanah dll) yang kita lakukan.

Dakwah Terbaik Adalah Perilaku (Dakwah bil Hal)

Sosiolog agama sering menyebut ini sebagai silent da'wah atau dakwah tanpa suara. Ketika kamu menjadi rekan kerja yang tidak hobi bergosip saat jam istirahat, selalu tepat waktu mengirimkan tugas, dan transparan dalam urusan anggaran, kamu sedang mendemonstrasikan nilai Islam dalam level tertinggi.

Data dari Deloitte Global Gen Z and Millennial Survey secara konsisten menunjukkan bahwa generasi muda sangat menghargai corporate empathy dan lingkungan kerja yang inklusif serta punya work-life balance yang baik.

Menghidupkan dakwah kultural di kantor bisa sesederhana:

  1. Memberikan ruang dan toleransi bagi rekan kerja yang sedang stres (menerapkan konsep sabar dan tabayyun saat ada konflik).
  2. Menjaga lisan di grup WhatsApp kantor agar tidak memicu toxic environment.
  3. Mengajak makan siang bareng tanpa membeda-bedakan latar belakang, lalu secara kasual mendiskusikan nilai-nilai kehidupan yang universal.

Ini adalah bentuk vibe check yang positif. Islam tidak hadir sebagai beban baru di tengah tekanan pekerjaan, melainkan sebagai solusi penenang (rahmatan lil 'alamin).

Kewajiban Mengembangkan dan Menyampaikan Ilmu

Di era di mana informasi bergerak secepat ketukan jari, ilmu pengetahuan mengalami usang (obsolescence) yang sangat cepat. Di sinilah Islam menuntut pemeluknya untuk terus melakukan upskilling dan reskilling.

Islam sangat menghargai sains dan pengetahuan. Dalam sebuah hadis riwayat Imam Ibnu Majah, ditegaskan:

"Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim."

Namun, dalam ekosistem digital, menimbun ilmu sendiri (knowledge hoarding) adalah sebuah kerugian besar. Konsep open-source dalam dunia teknologi sebenarnya sangat sejalan dengan prinsip Islam mengenai keberkahan ilmu. Ilmu yang berkah adalah ilmu yang diamalkan dan dibagikan.

Rasulullah SAW memberikan peringatan keras bagi mereka yang menyembunyikan pengetahuannya:

"Barangsiapa yang ditanya tentang suatu ilmu lalu ia menyembunyikannya, maka Allah akan mengekangnya dengan kekang dari api neraka pada hari kiamat." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Jika ditarik ke konteks profesional saat ini, menyembunyikan ilmu bisa berarti enggan melakukan transfer knowledge kepada junior di kantor karena takut posisimu tersaingi, atau menolak memberikan tutorial yang bermanfaat di media sosial.

Sebaliknya, saat kamu membuat utas di Twitter/X yang mencerahkan, membagikan tips formula Excel di TikTok, atau menulis artikel LinkedIn tentang efisiensi kerja, kamu sedang memenuhi kewajiban dakwah berbasis ilmu pengetahuan.

Menjadi Muslim yang Fungsional

Dakwah di abad ke-21 bagi Gen Z bukan lagi soal mengubah platform kerja menjadi majelis taklim formal. Dakwah adalah tentang bagaimana menjadi manusia yang fungsional dan memberikan dampak nyata (impactful) bagi lingkungan sekitar.

Dengan memadukan kewajiban dakwah, pendekatan kultural yang cair, serta semangat membagikan ilmu, kita bisa mengubah setiap ruang rapat, baris kode pemrograman, hingga dokumen presentasi menjadi ladang ibadah.

Menjadi muslim yang taat sekaligus profesional yang andal bukanlah dua hal yang terpisah. Keduanya adalah satu paket harmoni untuk menciptakan dunia kerja yang lebih manusiawi dan diberkahi.[]

Bagikan artikel ini:

Berita Terkait Lainnya

Lihat Semua →
Tidak Boleh Bersikap Diam Ketika Amanah Publik Terancam

Tidak Boleh Bersikap Diam Ketika Amanah Publik Terancam

Tidak Boleh Bersikap Diam Ketika Amanah Publik Terancam

Redaksi
Redaksi05 Okt 2026
Kajian Ahad Pagi PCM Pahandut, Menginspirasi Warga Muhammadiyah

Kajian Ahad Pagi PCM Pahandut, Menginspirasi Warga Muhammadiyah

Kajian Ahad Pagi PCM Pahandut, Menginspirasi Warga Muhammadiyah

Redaksi
Redaksi05 Okt 2026
Muhammadiyah Kotim Salurkan 20.000 Liter Air Bersih ke Empat Titik

Muhammadiyah Kotim Salurkan 20.000 Liter Air Bersih ke Empat Titik

Keterbatasan air bersih membuat warga di sejumlah wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, harus mengandalkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari

Redaksi
Redaksi04 Okt 2026
Muhammadiyah Salurkan Bantuan Oxycan Untuk Relawan Karhutla Di Kalteng

Muhammadiyah Salurkan Bantuan Oxycan Untuk Relawan Karhutla Di Kalteng

Muhammadiyah Salurkan Bantuan Oxycan Untuk Relawan Karhutla Di Kalteng

Redaksi
Redaksi02 Okt 2026
Aksi Nyata, PDA Kota Palangka Raya hadirkan  kepedulian Kesehatan terhadap Dampak Karhutla

Aksi Nyata, PDA Kota Palangka Raya hadirkan kepedulian Kesehatan terhadap Dampak Karhutla

Aksi Nyata, PDA Kota Palangka Raya hadirkan kepedulian Kesehatan terhadap Dampak Karhutla

Redaksi
Redaksi27 Sep 2026
Avatar
Mediamukalteng.com dengan motto "Da'wah News and Education" sebagai ikhtiar membangun masyarakat madani, harmonis dan berkeadaban.
Copyright © 2026 MediaMu Kalteng
Designed and Developed by Jinara Studio
Menakar Ulang "Kewajiban Dakwah" di Era Kerja Anak Muda