SAMPIT — Krisis air bersih yang masih dirasakan sebagian masyarakat di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, mendorong Muhammadiyah memperluas penyaluran bantuan air bersih ke wilayah terdampak. Sebanyak 20.000 liter air bersih disalurkan ke empat titik di Kecamatan Mentaya Hilir Selatan dan Kecamatan Teluk Sampit.
Penyaluran tersebut merupakan sesi ketiga gerakan bantuan air bersih yang dilakukan Muhammadiyah Kotawaringin Timur. Kegiatan dilaksanakan melalui kolaborasi sejumlah unsur, yakni Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), Lazismu, Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM), Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) Aisyiyah, DPD IMM Kalimantan Tengah, BEM Universitas Muhammadiyah Sampit (UMSA), Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), serta IMM Kotawaringin Timur dan komunitas Amang Ojek.
Gerakan kemanusiaan tersebut juga menggandeng Komando Distrik Militer (Kodim) 1015 Sampit. Kolaborasi lintas organisasi itu dilakukan untuk memastikan bantuan dapat menjangkau masyarakat yang membutuhkan, terutama di wilayah yang mengalami keterbatasan pasokan air bersih.
Empat lokasi menjadi sasaran penyaluran. Masing-masing berada di Sei Ijum, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan; Kampung Seranggas, Desa Lempuyang, Kecamatan Teluk Sampit; RT 01 Desa Lempuyang, Kecamatan Teluk Sampit; serta Desa Kuin Permai, Kecamatan Teluk Sampit.
Perwakilan LLHPB Aisyiyah, Etty Silviani, S.Pd., mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari kepedulian Muhammadiyah terhadap masyarakat yang terdampak kesulitan air bersih. Menurut dia, penanganan persoalan air membutuhkan kerja bersama agar bantuan dapat menjangkau warga secara lebih luas.
Penyaluran air juga memperlihatkan hubungan sosial yang kuat antara relawan dan masyarakat. Di Desa Lempuyang, warga menyambut kedatangan tim dengan antusias. Mereka bahkan memberikan beras kepada para relawan sebagai bentuk apresiasi dan rasa terima kasih atas bantuan yang diberikan.
Pemberian beras tersebut menjadi gambaran bahwa bantuan kemanusiaan tidak selalu berjalan satu arah. Di tengah keterbatasan, warga penerima bantuan tetap berupaya memberikan sesuatu yang mereka miliki sebagai bentuk penghargaan kepada orang-orang yang datang membantu.
Bagi Muhammadiyah, aksi tersebut sekaligus menjadi bagian dari praktik kepedulian sosial dan lingkungan. Penanganan persoalan air bersih tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan dasar, tetapi juga menyangkut ketahanan masyarakat menghadapi dampak kekeringan dan perubahan kondisi lingkungan.
Kolaborasi antara organisasi otonom Muhammadiyah, lembaga filantropi, perguruan tinggi, dan unsur TNI menunjukkan bahwa persoalan kemanusiaan membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Penyaluran 20.000 liter air bersih pada sesi ketiga ini diharapkan dapat meringankan beban warga sekaligus memperkuat solidaritas masyarakat di tengah kondisi sulit.
Bagikan artikel ini:








