Meneguhkan Kembali Identitas: Esensi Islam, Kemuhammadiyahan dan Inovasi Mutu Sekolah Muhammadiyah
(Sebuah Catatan Reflektif atas Pemikiran Drs. H. Aunur Rofiq, M.Si. dalam Pendampingan Mutu di Kotim)
Sebuah ruang pertemuan sering kali menjadi saksi bagaimana kesadaran kolektif kita diuji melalui hal-hal sederhana. Di dalam Aula Hotel Vivo Sampit, 11 Juni 2026, suasana hangat menyelimuti kegiatan Pendampingan Mutu Sekolah Muhammadiyah yang dihadiri oleh sekitar 100 guru dan tenaga kependidikan (tendik) se-Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Bapak Drs. H. Aunur Rofiq, M.Si., seorang praktisi pendidikan sekolah Muhammadiyah yang sarat pengalaman, melempar sebuah pemantik interaktif yang sangat menarik sekaligus kontemplatif.
Ketika beliau menyebutkan jargon televisi swasta atau merek minuman kemasan populer, ruang aula serempak menyahut dengan jawaban yang lugas, otomatis, dan kompak. Namun, suasana seketika berubah hening saat kata “Muhammadiyah” dipekikkan. Ruang mendadak diliputi keraguan; para peserta tertegun, bingung mencari padanan kata atau jawaban apa yang paling tepat untuk meresponsnya.
Keheningan tersebut bukanlah tanda ketidaktahuan, melainkan sebuah refleksi mendalam yang sengaja digugah oleh pemateri. Peristiwa ini menjadi tamparan halus sekaligus titik awal yang krusial untuk menengok kembali ke dalam diri kita masing-masing. Mengapa kita begitu fasih menghafal identitas produk komersial duniawi, namun gagap ketika dihadapkan pada identitas gerakan Islam yang menjadi wadah pengabdian tempat kita mengajar?
Dari kegamangan inilah, urgensi Penguatan Al-Islam dan Peneguhan Ideologi Muhammadiyah itu bermula.
Menemukan Kembali Akar Definisi dalam Anggaran Dasar
Untuk menjawab kegelisahan batin tersebut, Bapak Rofiq mengajak para peserta untuk membuka kembali lembaran fundamental organisasi sebagaimana yang termaktub dalam Anggaran Dasar (AD) Muhammadiyah pasal 4 dan 6. Muhammadiyah adalah Gerakan Islam, Da’wah Amar Ma’ruf Nahi Munkar dan Tajdid, bersumber pada Al-Qur`an dan As-Sunnah, berasas Islam, bertujuan untuk menegakkan dan menjunjung tinggi Agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
Dalam susunan kalimat definisi Muhammadiyah terdapat pengulangan kata “Islam” sebanyak empat kali secara berurutan dan sistematis: Gerakan Islam, Berazaskan Islam, Menegakkan dan Menjunjung Tinggi Agama Islam, serta Mewujudkan Masyarakat Islam. Hal menegaskan bahwa lembaga amal usaha Muhammadiyah termasuk sekolah adalah wadah untuk melancarkan gerakan dakwah amar ma'ruf nahi mungkar dan tajdid. Oleh karena itu, bagi 100 guru dan tendik di Kotim, Islam adalah ruh utama yang harus menjiwai setiap jengkal ruang kelas dan manajemen sekolah.
Seni Berinovasi: Mengelola 1500 Siswa di Lahan Terbatas
Sebagai seorang praktisi pendidikan yang telah menguji teorinya di lapangan, Bapak Drs. Aunur Rofiq, M.Si. menekankan bahwa peneguhan ideologi tidak boleh mandek pada seminar-seminar. Ideologi harus menjelma menjadi solusi nyata atas problem sekolah lokal, salah satunya adalah kendala keterbatasan aset fisik atau lahan.
Beliau membagikan kisah sukses dan strategi inovatif yang memukau para peserta di Sampit. Banyak sekolah merasa pesimistis karena tidak memiliki lahan luas untuk membangun gedung besar. Namun, di tangan beliau, keterbatasan fisik bukanlah vonis mati bagi kualitas.
Beliau merancang sebuah sistem pengelolaan ruang dan waktu yang revolusioner: sebuah gedung sekolah yang kapasitas normalnya hanya menampung 300 orang, berhasil dikelola dengan optimal untuk melayani hingga 1500 siswa. Kuncinya terletak pada efisiensi manajemen, penjadwalan yang presisi, serta pemanfaatan ruang publik dan ekosistem digital secara cerdas. Inovasi sistem inilah yang membuktikan bahwa mutu sekolah Muhammadiyah tidak diukur dari luasnya tanah, melainkan dari luasnya cakrawala berpikir para pengelolanya.
Menjual "Ruh" Sekolah: Manifestasi Visi Misi ke dalam Program Nyata
Bagaimana sekolah dengan keterbatasan lahan mampu memenangkan hati masyarakat dan menjaring ribuan siswa? Bapak Drs. Aunur Rofiq membuka rahasianya: Kekuatan Visi dan Misi yang menjiwai seluruh kegiatan sekolah.
Bagi beliau, visi dan misi sekolah jangan hanya menjadi pajangan dinding yang berdebu. Tugas kepala sekolah, guru, dan tendik adalah merumuskan dan membedah visi besar tersebut ke dalam program kegiatan sehari-hari yang benar-benar konkret dan mencerminkan tujuan sekolah.
Sebagaimana yang dipaparkan dalam bagan pendidikan holistik: nilai spiritualitas, adab kepada orang tua dan guru, serta Islamic leadership diintegrasikan langsung dengan soft skill abad ke-21. Ketika masyarakat melihat bahwa anak-anak Muhammadiyah adalah pribadi yang bernalar kritis, kreatif, disiplin mengelola waktu, namun tetap santun dan taat beribadah, di situlah nilai jual utama sekolah berada.
Program kegiatan yang nyata, konsisten, dan mencerminkan nilai Islam berkemajuan inilah yang dipasarkan kepada publik. Inilah instrumen utama untuk membangun, mempertahankan, dan melejitkan kepercayaan (trust) masyarakat secara organik.
Kesimpulan: Menjawab Jargon dengan Komitmen Mutu
Kembali pada pertanyaan retoris di awal sesi: "Jika kata 'Muhammadiyah' diucapkan, apa jawaban spontan kita?"
Bagi para pendidik Muhammadiyah di Kotim, jawaban terbaik kita kini tidak lagi membingungkan. Jawaban kita adalah "Komitmen Mutu dan Pelayanan Terbaik." Melalui pendampingan yang mencerahkan dari Bapak Drs. H. Aunur Rofiq, M.Si. di Aula Hotel Vivo Sampit, seluruh peserta disadarkan bahwa keterbatasan sarana fisik bukanlah penghalang untuk melahirkan sekolah besar dan unggul.
Ketika kreativitas manajemen mampu menghidupkan visi menjadi aksi, maka sekolah-sekolah Muhammadiyah di Kotim akan bertransformasi menjadi pusat-pusat keunggulan yang tidak hanya mandiri, tetapi juga menjadi rebutan dan kebanggaan masyarakat.
Bagikan artikel ini:








