SAMPIT – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di TK Aisyiyah 1 Sampit tahun ini tampil berbeda. Alih-alih hanya mengenalkan ruang kelas, guru, dan teman baru, puluhan peserta didik diajak belajar langsung mencintai alam melalui praktik pembibitan tanaman, perawatan pohon buah, hingga menikmati hasil panen bersama.
Kegiatan yang menjadi bagian dari pembelajaran berbasis lingkungan tersebut dipusatkan di kebun edukasi milik akademisi sekaligus peneliti, Dr. Joni. Di lokasi itu, anak-anak diperkenalkan berbagai teknik budidaya tanaman yang sederhana, menyenangkan, sekaligus mampu melatih keterampilan motorik mereka.
Selama kegiatan, peserta didik tidak hanya mengenal cara memperbanyak tanaman menggunakan metode stek daun dan stek batang, tetapi juga belajar melakukan pembibitan berbagai jenis tanaman, mengenali pertumbuhan pohon, hingga memahami pentingnya menjaga lingkungan sejak usia dini. Berbagai tanaman yang diperkenalkan antara lain jambu air, manggis, kayu manis, ulin, hingga tanaman hias hutan jenis hoya. Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari komitmen TK Aisyiyah 1 Sampit dalam menghadirkan pembelajaran luar kelas yang menyenangkan sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap alam.
Dr. Joni menjelaskan, pendekatan pembelajaran tersebut bukan sekadar mengajarkan cara menanam, tetapi membangun pengalaman yang akan membekas pada diri anak. Menurutnya, ketika anak dilibatkan secara langsung mulai dari proses pembibitan hingga menikmati hasil panen, akan tumbuh rasa memiliki terhadap tanaman yang mereka rawat.
"Satu-satunya TK di Kalimantan Tengah, bahkan mungkin di dunia, yang mentransfer ilmu makrifat tanaman melalui aplikasi pembibitan menggunakan daun, pucuk, dan batang. Anak-anak tidak hanya dikenalkan cara membibitkan tanaman, tetapi juga belajar melakukan pruning atau pemangkasan pentil buah, memanen buah, kemudian menikmati hasil panennya secara bersama-sama. Dengan begitu, kecintaan terhadap dunia pertanian akan tumbuh karena mereka merasakan sendiri hasil dari menanam pohon buah," ujar Dr. Joni.

Ia menambahkan, metode tersebut sekaligus menjadi alternatif pembelajaran yang lebih menarik dibandingkan pembelajaran konvensional di dalam kelas. Aktivitas menanam dianggap sebagai permainan yang menyenangkan sehingga mampu merangsang perkembangan motorik halus sekaligus rasa ingin tahu anak terhadap lingkungan. Bahkan, teknik stek daun yang dikembangkan pernah menarik perhatian akademisi dari Jerman untuk dipelajari lebih lanjut.
Kepala TK Aisyiyah 1 Sampit, Misda Masitah, mengatakan bahwa pendidikan karakter peduli lingkungan harus dimulai sejak usia dini. Karena itu, sekolah secara rutin menghadirkan pembelajaran di luar kelas agar anak-anak memperoleh pengalaman nyata berinteraksi dengan alam.
Menurutnya, pembelajaran semacam ini membuat anak lebih mudah memahami bahwa setiap tanaman membutuhkan perhatian, kesabaran, dan tanggung jawab untuk tumbuh dengan baik. Nilai-nilai tersebut diharapkan menjadi bekal karakter yang akan terus terbawa hingga mereka dewasa.
"Anak-anak terlihat sangat antusias. Mereka senang belajar menanam, memegang media tanam, mengenal berbagai jenis pohon, sampai melihat buah yang siap dipanen. Kami berharap mereka semakin mencintai alam ciptaan Allah SWT dan memiliki kebiasaan menjaga lingkungan sejak kecil," katanya.
Melalui konsep MPLS yang mengintegrasikan pendidikan lingkungan hidup, TK Aisyiyah 1 Sampit menunjukkan bahwa pengenalan sekolah tidak harus berlangsung di dalam ruang kelas. Alam dapat menjadi laboratorium belajar yang menghadirkan pengalaman bermakna bagi peserta didik baru.
Pendekatan tersebut juga sejalan dengan semangat menghadirkan pembelajaran yang ramah anak, menyenangkan, dan berorientasi pada pembentukan karakter. Ketika anak mampu menanam, merawat, memanen, lalu menikmati hasilnya sendiri, mereka tidak hanya memperoleh pengetahuan tentang pertanian, tetapi juga belajar menghargai proses, mencintai lingkungan, serta memahami bahwa menjaga bumi dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana sejak usia dini.
Bagikan artikel ini:








