Sampit, 11 Juni 2026 – Ruang aula Hotel Vivo Sampit terasa begitu hidup. Dihadapan lebih dari 100 guru dan tenaga kependidikan, bukan sekadar penyampaian materi, tetapi sebuah ajakan untuk bergerak, berbenah, dan menatap masa depan pendidikan Muhammadiyah dengan penuh optimisme. Semangat itulah yang terpancar saat H. Pahri, S.Ag., M.M. menyampaikan materi “Desain Sekolah Muhammadiyah yang Unggul dan Berkemajuan” dalam kegiatan Pendampingan Penjaminan Mutu Sekolah/Madrasah Muhammadiyah di Kotawaringin Timur.
Dengan gaya penyampaian yang lugas namun penuh inspirasi, beliau mengajak para kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan untuk melihat pendidikan Muhammadiyah bukan hanya sebagai amanah organisasi, melainkan sebagai gerakan besar yang akan menentukan kualitas generasi masa depan. Setiap sekolah, sekecil apa pun, menurut beliau memiliki peluang yang sama untuk menjadi sekolah unggul apabila dikelola dengan visi yang jelas, budaya mutu yang kuat, dan semangat untuk terus belajar.
Beliau memaparkan kondisi pendidikan Muhammadiyah secara nasional sebagai bahan refleksi bersama. Saat ini Muhammadiyah memiliki lebih dari 5.300 sekolah yang tersebar di seluruh Indonesia. Di balik jumlah yang besar tersebut masih terdapat berbagai tantangan yang harus dihadapi, mulai dari penguatan tata kelola, peningkatan mutu layanan, hingga membangun kepercayaan masyarakat.
Namun, beliau tidak berhenti pada daftar persoalan. Sebaliknya, beliau menanamkan keyakinan bahwa setiap tantangan adalah peluang untuk bertumbuh. Dengan penuh optimisme beliau menegaskan bahwa sekolah Muhammadiyah memiliki modal besar untuk terus maju selama seluruh unsur sekolah memiliki kemauan untuk berubah dan berkembang.
Kepemimpinan Menjadi Titik Awal Perubahan
Suasana ruangan semakin antusias ketika beliau berbicara tentang kepemimpinan. Menurut beliau, perubahan besar selalu dimulai dari seorang pemimpin yang berani memiliki mimpi besar bagi sekolahnya.
Kepala sekolah bukanlah pengelola administrasi, melainkan lokomotif yang menentukan arah perjalanan sekolah. Pemimpin yang visioner mampu menyalakan harapan, membangun semangat tim, dan menggerakkan seluruh potensi yang dimiliki sekolah untuk mencapai tujuan bersama.
Keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti berinovasi. Justru banyak sekolah hebat lahir dari keberanian para pemimpinnya dalam melihat peluang di tengah keterbatasan. Karena itu, kepala sekolah harus memiliki growth mindset, terus belajar, terbuka terhadap perubahan, dan tidak pernah puas dengan capaian yang telah diraih.
"Jangan menunggu sekolah menjadi besar untuk berubah. Berubahlah terlebih dahulu, maka sekolah akan bertumbuh menjadi besar," menjadi pesan yang terasa kuat dari keseluruhan pemaparannya.
Guru sebagai Jantung Perubahan
Beliau juga memberikan perhatian besar kepada para guru. Dengan penuh penghargaan, beliau menyampaikan bahwa kualitas sebuah sekolah pada akhirnya akan tercermin dari kualitas para pendidiknya.
Menurut beliau, guru adalah pembentuk peradaban. Setiap ucapan, sikap, dan tindakan guru menjadi pelajaran yang akan melekat dalam ingatan peserta didik jauh lebih lama dibandingkan materi yang disampaikan di kelas.
Karena itu, guru dituntut tidak hanya meningkatkan kompetensi profesional, tetapi juga menjaga integritas, keteladanan, dan semangat belajar sepanjang hayat. Beliau mengajak seluruh guru Muhammadiyah untuk menjadi pembelajar yang tidak pernah berhenti memperbaiki diri.
Peserta didik, kata beliau, akan lebih mudah mengikuti apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar. Oleh sebab itu, budaya sekolah yang positif harus dimulai dari teladan yang diberikan oleh para guru dan tenaga kependidikan.
Mutu Harus Menjadi Nafas Sekolah
Salah satu bagian yang paling menggugah adalah ketika beliau berbicara tentang budaya mutu. Beliau menegaskan bahwa mutu bukanlah program musiman yang hadir ketika ada penilaian atau akreditasi. Mutu harus menjadi nafas yang menghidupi seluruh aktivitas sekolah setiap hari.
Mutu terlihat dari cara sekolah melayani peserta didik, menyambut orang tua, menjaga kebersihan lingkungan, membangun kedisiplinan, hingga mengelola administrasi secara profesional. Ketika mutu telah menjadi budaya, seluruh warga sekolah akan bergerak melakukan yang terbaik tanpa harus menunggu instruksi.
Beliau mengajak peserta untuk membangun sistem yang kuat sehingga kualitas sekolah tidak bergantung pada satu atau dua orang saja. Sekolah yang hebat adalah sekolah yang tetap mampu berjalan dengan baik karena memiliki budaya kerja yang telah mengakar.
Menyiapkan Generasi yang Tidak Hanya Cerdas, tetapi Juga Berkarakter
Di tengah derasnya perubahan zaman, beliau mengingatkan bahwa tujuan utama pendidikan bukan hanya menghasilkan lulusan yang pintar secara akademik. Yang lebih penting adalah melahirkan generasi yang memiliki karakter kuat, berakhlak mulia, dan mampu memberikan manfaat bagi sesama.
Sekolah harus menjadi tempat tumbuhnya kejujuran, tanggung jawab, disiplin, kepedulian sosial, dan semangat belajar yang tinggi. Prestasi akademik memang penting, namun karakter adalah fondasi yang akan menentukan arah kehidupan seseorang di masa depan.
Beliau meyakini bahwa ketika karakter dan kompetensi berkembang secara seimbang, sekolah akan melahirkan lulusan yang tidak hanya siap bersaing, tetapi juga siap mengabdi dan memberi solusi bagi masyarakat.
Prestasi dan Reputasi Adalah Buah dari Kesungguhan
Menjelang akhir sesi, beliau menyampaikan sebuah pesan yang mengundang refleksi mendalam. Menurut beliau, tidak ada sekolah unggul yang lahir secara instan. Keunggulan adalah hasil dari proses panjang yang dijalani dengan konsisten.
Ketika kepemimpinan berjalan baik, guru terus berkembang, budaya mutu tumbuh, dan peserta didik mendapatkan layanan terbaik, maka prestasi akan hadir sebagai konsekuensi. Dari prestasi lahirlah reputasi, dan dari reputasi tumbuh kepercayaan masyarakat.
Melalui materi yang penuh semangat dan optimisme tersebut, beliau mengingatkan bahwa sekolah unggul bukanlah sekolah yang merasa telah sempurna. Sekolah unggul adalah sekolah yang tidak pernah berhenti belajar, tidak lelah berbenah, dan selalu memiliki keberanian untuk menjadi lebih baik dari hari ke hari.
Bagi sekolah-sekolah Muhammadiyah di Kotawaringin Timur, pendampingan ini bukan sekadar agenda peningkatan mutu. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi momentum untuk menyalakan kembali semangat perubahan dan memperkuat tekad bersama dalam menghadirkan pendidikan Muhammadiyah yang unggul, berkarakter, dan berkemajuan.
Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah sekolah bukan hanya terletak pada banyaknya peserta didik yang belajar di dalamnya, melainkan pada seberapa besar manfaat yang mampu diberikan bagi umat, bangsa, dan masa depan generasi penerus.
Bagikan artikel ini:








