Langit Jakarta Tak Lagi Kelabu

Redaksi
RedaksiPenulis
Tim Redaksi
Tim RedaksiEditor
26 Desember 2025Jumat, 22:16 WIB
40
Langit Jakarta Tak Lagi Kelabu

Foto:Ilustrasi langit Jakarta 2045

Selalu ada waktu untuk jatuh cinta lagi pada langit Jakarta. Begitulah kata orang-orang tua di kampung Marunda Bahari, tempat aku lahir, di tepi laut yang kini berwarna biru kembali setelah puluhan tahun diselimuti abu dan lumpur. Dulu udara di sini lebih berat dari kenangan. Sekarang, barangkali, ia sudah belajar memaafkan masa lalu. Langitnya bersih, awannya jinak, dan burung-burung kembali memilih untuk singgah, bukan sekadar melintas.

Namaku Rakha, empat belas tahun, anak penjual nasi uduk yang warungnya berdiri di pinggir danau buatan yang dulunya jalan tol. Ayahku, orang paling sabar yang kukenal di muka bumi, biasa berkata sambil menanak nasi, “Kita ini, Nak, hidup di zaman ajaib. Zaman ketika matahari dan manusia berdamai.” Aku tidak sepenuhnya paham maksudnya saat itu, tetapi kini, ketika kulihat bayangan kota berkilauan dari kejauhan, barulah aku tahu: ia benar.

Jakarta tahun 2045 bukan lagi kota yang kuceritakan dari buku sejarah. Kini kota ini seperti makhluk baru yang tumbuh dari luka-luka lamanya sendiri. Jalanan lebih tenang, pohon trembesi berbaris rapi di jantung kota, dan setiap gedung memantulkan cahaya surya ke langit dengan angkuh tapi juga lembut, seolah ingin berkata: “Lihatlah, akhirnya aku menemukan caraku bernapas.”

Kata orang akademik di berita, inilah hasil dari “transisi hijau nasional”. Tapi bagiku dan teman-teman di kampung, kami hanya tahu satu hal: langit tak lagi kelabu, dan itu sudah cukup untuk bersyukur setiap pagi.

Setiap hari, aku berangkat sekolah dengan sepeda listrik bekas yang kuperoleh dari seorang nelayan tua. Jalan menuju sekolah melintasi jembatan air — struktur unik yang dibangun di atas kanal restorasi sungai. Kadang aku berhenti di tengahnya, menatap ikan-ikan kecil berenang di bawah genangan jernih, lalu menengadah melihat sinar mentari menembus tipis awan.

Pagi seperti itu membuatku merasa menjadi bagian dari sesuatu yang besar, sesuatu yang lebih dari sekadar diri sendiri. Barangkali itulah makna sesungguhnya menjadi warga dari negeri seratus tahun merdeka.

Namun, di balik semua ketenangan itu, masih tersisa sesuatu yang tak sempat dibenahi pemerintah: rasa sepi di hati sebagian orang kecil yang merasa tertinggal dari laju perubahan. Ayahku salah satunya.

Setelah kota berubah menjadi kota berteknologi rendah karbon, banyak pedagang kecil kehilangan tempat. Mesin penjual otomatis menjamur di setiap sudut taman kota, menjual nasi goreng, sate, dan kopi dengan cita rasa yang anehnya mirip buatan manusia. Ayah tidak marah pada kemajuan, ia hanya sering termenung sambil menatap perahu melintas di kanal malam-malam, seperti menatap masa silam yang perlahan diuapkan waktu.

“Rakha,” katanya suatu malam, “dulu orang bekerja siang malam untuk hidup. Sekarang, mesin hidup siang malam untuk orang. Tapi apakah manusia jadi lebih bahagia, ya?”

Aku diam saja. Kadang aku bantu menutup warungnya saat pelanggan terakhir pergi. Warung kami kini tak seramai dulu, tapi selalu ada langganan lama yang datang hanya untuk mendengar cerita ayah.

Salah satu dari mereka adalah Pak Junaedi, pensiunan guru yang kini mengajar anak-anak pengungsi pesisir secara daring. Ia sering datang membawa berita dari sekolah pusat — katanya, tahun depan sekolahku akan menerapkan program pembelajaran langsung dari laboratorium luar angkasa Indonesia. Aku terperangah setiap kali mendengar kata itu: “luar angkasa.” Untuk anak dari kampung nelayan sepertiku, impian mencapai bintang terasa seperti mengejar pelangi dari dalam ember plastik.

Tapi mungkin, pikirku kemudian, memang sudah waktunya kami belajar bermimpi sebesar itu.

Kini, setiap sore, aku duduk di dermaga elektronik tempat kapal-kapal air otomatis bersandar. Di ujung sana, kulihat menara surya berdiri megah di tengah kota. Suaranya berdengung halus, seperti dengung lebah raksasa yang sedang menjaga kebun cahaya. Di sekitar menara itu terdapat taman-taman publik dan galeri seni digital tempat anak muda memamerkan karya mereka. Temanku, Fira, sering mengunggah puisi visualnya ke layar interaktif yang bisa dibaca siapa pun lewat kacamata hibrida. Ia bilang, dulu harus menunggu bertahun-tahun agar puisinya dibukukan. Sekarang cukup satu klik dan satu senyum dari pembaca di Bandung atau Makassar.

“Kau mau dunia tahu siapa kau, Rakha?” tanya Fira sekali waktu.

Aku tertawa. “Aku belum tahu apakah dunia butuh tahu siapa aku.”

Namun di dalam hatiku, aku ingin dikenal bukan karena teknologi, tapi karena cerita. Aku ingin menulis kisah tentang orang-orang kecil yang hidup di tepian perubahan besar — tentang ayah yang menanak nasi di bawah panel surya, tentang anak-anak yang masih bermain di lumpur meski dunia sudah serba bersih.

Malam di Jakarta 2045 jauh berbeda dari dulu, kata ayah. Sekarang bintang bisa terlihat dengan jelas, hingga orang-orang sering berjalan malam hanya untuk memandang langit. Itu terjadi karena polusi cahaya dikurangi lewat sistem “sinar adaptif” — lampu kota yang mengikuti ritme bulan dan matahari. Di langit jernih itu, sering terlihat pesawat ruang angkasa melintas perlahan seperti bintang jatuh yang tak mau mati.

Setiap kali kulihat cahaya itu, aku berkhayal ibuku berada di sana. Ia bekerja di fasilitas penelitian cuaca orbit Nusantara, membantu mengatur pola hujan agar tidak lagi memicu banjir. Ia pergi saat aku baru masuk SD dan sejak itu kami hanya berbicara lewat terminal holografik setiap beberapa minggu sekali. Suaranya jernih, wajahnya tersenyum, tapi ada jarak yang tak pernah bisa kujelaskan — seperti jarak antara bintang dan laut.

Suatu malam aku bertanya padanya, “Ibu, bagaimana rasanya tinggal di langit?”

Ia menatapku lama sebelum menjawab, “Tenang dan sunyi, Rakha. Tapi di setiap detak mesin, ibu selalu mendengar suara ombak dari cinta ibu pada tanah kita.”

Aku hampir menangis mendengarnya. Sejak malam itu, aku berjanji dalam diam: suatu hari nanti aku akan naik ke langit bukan untuk kabur dari bumi, tapi untuk membawa sedikit cinta bumi ke sana.

Perubahan tak hanya datang dari atas langit atau laboratorium. Di bawah tanah Jakarta, ratusan kilometer lorong hijau telah dibangun sebagai pusat daur ulang alami. Sampah organik diubah menjadi pupuk, dan plastik sebisa mungkin dihapus dari kehidupan. Ayah sering memuji sistem baru itu, meski diam-diam ia masih menyimpan kantong plastik biru tua warisan ibunya. Katanya, itu simbol betapa kita pernah salah, tapi juga pernah belajar.

Setiap akhir pekan, anak-anak muda dari berbagai wilayah datang ke “Kampung Energi” kami. Mereka meneliti cara masyarakat lokal menghemat daya tanpa kehilangan kenyamanan. Aku sering membantu mereka, sekadar membawa data dari sensor suhu atau mencatat perubahan kelembapan udara. Salah satu dari mereka, Kak Devin, mahasiswa dari universitas teknologi Nusantara, berkata padaku, “Rakha, dunia butuh ilmuwan yang lahir dari tanah ini. Kau harus kuliah nanti.”

Aku hanya mengangguk. Tapi di dalam hati, aku mulai merasa sesuatu yang tak pernah kurasakan sebelumnya: percaya diri.

Mungkin beginilah rasanya ketika satu bangsa belajar benar-benar mencintai dirinya sendiri — bukan lewat slogan, tapi lewat perbuatan kecil setiap hari. Membersihkan sungai, menanam pohon di atap sekolah, berbagi listrik dengan tetangga yang kekurangan.

Pagi berikutnya, udara terasa lembut seperti daun kelapa muda. Di sekolah, kepala sekolah mengumumkan hal besar: Jakarta dipilih menjadi tuan rumah peringatan seratus tahun kemerdekaan. Presiden akan datang langsung dari ibu kota baru Nusantara bersama para ilmuwan dan seniman. Setiap sekolah diminta menyiapkan satu karya persembahan.

Fira langsung berseru, “Kita buat puisi massal digital!”

Tapi aku sudah punya ide lain. Aku ingin membuat pameran kecil tentang kisah orang-orang di kampungku yang ikut menjaga alam. Tentang para ibu yang menanam mangrove, para bapak yang menebar benih ikan, dan anak-anak yang menulis puisi di dinding rumah bambu bercahaya.

Guru menyetujui idemu dengan tatapan bangga. “Ceritamu akan menjadi bagian dari sejarah, Rakha. Orang-orang perlu tahu, Indonesia tidak dibangun oleh teknologi semata, tapi oleh cinta pada tempatnya sendiri.”

Sepulang sekolah, aku berjalan melewati pasar terapung modern — kios-kios melayang di atas permukaan air jernih, berdinding kaca surya tipis. Suara tawar-menawar masih terdengar seperti dulu, tapi kini dalam bayangan neon lembut yang ramah bagi mata. Seorang penjual buku bekas memanggilku.

“Anak muda! Kau suka membaca? Ini ada buku dari zaman dulu, katanya ditulis oleh seseorang dari Belitong.”

Kutatap sampulnya: Laskar Pelangi.

Nama itu anehnya terasa akrab, seolah kusebut dalam mimpi. Aku membeli buku itu dengan sisa uang makan siangku.

Malamnya aku membacanya di bawah lampu hemat daya di warung ayah. Kata demi kata seakan mengalir seperti arus listrik dari masa lalu, menghidupkan sesuatu di dalam diriku — sesuatu yang hangat, yang membuat mimpi terasa mungkin. Aku memahami, menulis bukan sekadar menceritakan dunia, tapi mengubahnya agar layak dihuni cinta.

Ayah mendekat pelan. “Kau membaca buku tua itu?”

Aku mengangguk. “Ayah, kalau aku menulis cerita tentang Indonesia masa depan, apa orang mau membacanya?”

Ayah tersenyum, matanya berkilau seperti lampu kapal di kejauhan. “Kalau kau menulis dengan hati, Nak, sejarah akan membacanya.”

Di luar sana, langit Jakarta yang tak lagi kelabu menatap kami dengan lembut. Angin membawa aroma laut dan nasi uduk yang baru matang. Di kejauhan, menara surya berkilau seperti lilin abadi bagi negeri yang akhirnya menemukan cahaya dari dalam dirinya sendiri.

[ZK. Mentaya]


BAGIAN 2

BAGIAN 3



Avatar
Mediamukalteng.com dengan motto "Da'wah News and Education" sebagai ikhtiar membangun masyarakat madani, harmonis dan berkeadaban.
Copyright © 2026 MediaMu Kalteng
Designed and Developed by Jinara Studio
Langit Jakarta Tak Lagi Kelabu