Sekolah di Ujung Pelangi

Redaksi
RedaksiPenulis
Tim Redaksi
Tim RedaksiEditor
26 Desember 2025Jumat, 22:14 WIB
50
Sekolah di Ujung Pelangi

Foto:Ilustrasi Sekolah Pelangi

Di ujung pelangi, sekolah itu berdiri sendiri, menghadap hutan rimba dan sungai lebar yang sepanjang tahun mengalir tanpa jenuh. Namanya Sekolah Pelangi Nusantara, sebuah bangunan mungil berpagar bambu yang berhiaskan lukisan anak-anak di sepanjang dinding. Dulu, di desa kecil di pinggir sungai Barito, sekolah-sekolah menunggu kapur dan papan tulis. Tapi tahun 2045 menghadirkan perubahan: dinding sekolah kini menyala, menampilkan semesta pengetahuan dalam panel digital, namun suara guru tua tetap jadi lentera yang membawa terang.

Aku, Lintang, sepuluh tahun, anak dari keluarga pedagang sayur keliling yang setiap pagi meniti sepeda melintasi kebun durian dan semak belukar menuju sekolah. Hidupku sederhana, seperti sungai di depan rumah, selalu percaya pada rahmat hujan dan sabar menunggu musim panen. Di sekolah, aku duduk di barisan depan, berdampingan dengan Sifa, teman terdekat sekaligus sainganku dalam mengeja kata.

Dulu, banyak orang berkata—di pedalaman, pendidikan adalah kemewahan. Tak setiap anak mendapat jatah mimpi di atas sekolah reyot. Tapi di sini, di tengah Barito yang kadang banjir, kadang surut, mimpi jadi sesuatu yang turun setiap pagi bersama embun. Semua berubah sejak jaringan satelit Nusantara tiba, membawa sinyal belajar ke pojok hutan dan ujung rawa. Panel surya di atap sekolah menyalakan ruang kelas bahkan saat mendung membalut bumi seminggu penuh.

Pak Guru Rafi, lelaki bertubuh kecil dengan rambut putih seperti benang hujan, adalah pilar sekolah ini. Ia datang dari kota, membawa buku-buku tua, mengajar sekaligus jadi ayah kedua bagi anak-anak desa. Ia punya cara bicara lembut, sering menyisipkan pantun di sela pelajaran matematika, menyalakan harapan di setiap kata.

"Lintang, Sifa, anak-anak semua, dunia luasnya tak terbatas pada sungai Barito," katanya suatu pagi. "Panel digital ini hanya jendela. Kalian harus tetap belajar menemukan pelangi di luar sana, dan juga pelangi di dalam diri sendiri."

Tiap pagi, sebelum belajar, kami membaca puisi bersama. Puisi tentang sungai, tentang pohon, tentang pelangi dan hujan. Satu persatu anak menulis puisi pada dinding digital, puisinya terpampang di layar sekolah, dan kadang tayang di pameran daring nasional.

Tak lama setelah satelit merdeka belajar mulai berfungsi, dunia jadi terasa dekat. Guru-guru dari Sabang sampai Merauke mengajar lintas pulau lewat konfrensi video, anak-anak desa dapat bertanya langsung pada profesor di Jakarta, Bandung, bahkan luar negeri.

Sifa pernah bertanya, "Pak Guru, apakah kita jadi sungguh-sungguh pintar kalau belajar dari robot?"

Pak Rafi tertawa kecil. "Robot pintar, Anak. Tapi kalian punya sesuatu yang mereka tidak punya: rasa ingin tahu yang tak pernah padam dan hati yang berani bermimpi."

Kadang, perubahan datang terlalu cepat untuk orang tua. Ibu Lintang pernah bertanya, "Apa perlunya belajar lewat layar? Dulu ayahmu juara catur cukup dengan papan kayu." Namun, ketika Lintang bisa menunjuk bintang lewat aplikasi teleskop digital di panel sekolah, mungkin diam-diam semua ibu di desa merasa bangga.

Suatu pagi, hujan deras mengguyur desa. Sungai meluap, sekolah hampir tenggelam air. Anak-anak tetap datang, berjalan dengan sepatu plastik, menembus genangan lumpur.

Hari itu, sekolah menjadi kapal yang terapung di antara mimpi dan kenyataan. Ruang kelas dibuka lebar, suara hujan menerpa atap surya, tapi pelajaran tetap berjalan. Pak Rafi mengangkat tablet, memulai pelajaran daring bersama guru tamu dari Bali, dari Aceh, dari Papua. Kami mengenal kata baru: belajar tak mengenal jarak. Di tengah banjir pun, pelajaran tetap sampai.

"Tahun depan, sekolah kita akan dikunjungi Menteri Pendidikan!" seru Pak Rafi suatu hari. Semua anak bersorak, meski banyak yang belum benar-benar paham siapa Menteri Pendidikan. Yang penting, sekolah kecil di ujung pelangi akan diperhatikan negeri. Kami diminta menyiapkan karya, memilih antara membuat lagu, menulis cerita, atau melukis tentang impian masa depan.

Sifa ingin membuat puisi tentang pelangi yang tak pernah berhenti menampakkan warnanya di sungai Barito. Lintang ingin menulis dongeng tentang robot yang belajar menanam padi bersama petani. Anak-anak lain memilih menari, memainkan alat musik tradisional yang kini suaranya mengalir melalui pengeras suara pintar.

Di sela pelajaran, ada waktu bermain. Lapangan adalah hamparan tanah berlumpur, kadang jadi lautan kecil, kadang jadi padang rumput. Bola yang kami gunakan buatan tangan, kadang dari kain bekas, kadang dari plastik daur ulang. Tapi kegembiraan tetap asli. Sekolah Pelangi Nusantara bukan hanya sekolah, ia tempat anak-anak menemukan mimpi bersama—baik lewat aplikasi, maupun lewat kilatan hujan sore.

Pak Rafi punya ritual: setiap akhir pekan, ia akan memimpin anak-anak berkeliling desa, menanam bibit pohon di pinggir sungai sebagai "warisan pelangi." Katanya, pohon itu akan menjadi tanda bahwa impian sekolah tak pernah padam.

Teknologi membawa keajaiban, tapi juga tantangan. Kadang, sinyal hilang. Kadang, panel surya rusak dimakan lumut. Tapi tidak ada yang patah semangat. Semua anak turun tangan, membersihkan panel, memperbaiki kabel, bahkan menulis laporan kerusakan lewat piranti digital milik sekolah.

Sifa pernah berkata, "Kita jadi tukang listrik, ilmuwan, dan penulis sekaligus. Semua demi sekolah kita."

Lintang menambahkan, "Karena kalau sekolah mati, pelangi tidak akan menampakkan warna untuk kita."

Hari besar tiba. Hari peringatan seratus tahun kemerdekaan Indonesia. Seluruh negeri menyaksikan sekolah kecil kami lewat layar. Menteri Pendidikan datang, menyeberang sungai dengan perahu bertenaga listrik, menginjak lumpur di halaman sekolah.

Anak-anak membacakan puisi, memainkan lagu, menunjukkan proyek sains sederhana mereka. Sifa membacakan puisi pelangi hasil karyanya di depan semua tamu.

Pak Menteri terharu. Ia berkata, "Di sekolah kecil ini, saya melihat masa depan Indonesia. Teknologi hebat, tapi mimpi anak-anak desa lebih hebat lagi."

Aku, Lintang, menatap pelangi yang muncul setelah hujan besar. Di bawah pelangi, sekolah kecil tetap berdiri tegak. Anak-anak berlomba menulis di dinding digital.

Dulu, orang tua berkata—pelangi muncul setelah badai. Namun di sekolah kami, pelangi muncul setiap pagi, di hadapan ilmu, harapan, dan senyum anak-anak yang tak pernah lelah belajar.

Sekolah di ujung pelangi bukan sekadar bangunan. Ia adalah pelangi itu sendiri, membentang di langit masa depan bangsa.

[ZK. Mentaya]


BAGIAN 1
BAGIAN 2


Avatar
Mediamukalteng.com dengan motto "Da'wah News and Education" sebagai ikhtiar membangun masyarakat madani, harmonis dan berkeadaban.
Copyright © 2026 MediaMu Kalteng
Designed and Developed by Jinara Studio
CERPEN_Sekolah di Ujung Pelangi