KAPUAS - Menghadapi bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalimantan Tengah ,kita perlu mengambil hikmah dan memperbanyak istighfar, bersabar dan tidak putus asa, memperbaiki hubungan dengan Allah dan manusia serta menjaga alam sebagai amanah.
Hal ini disampaikan Sekretaris Pimpinan Daerah Muhammadyah (PDM) Kapuas yang juga Sekretaris Forum Kerukunan Umat Beragam (FKUB) Kabupaten Kapuas, M.Jalauddin,M.Pd, Senin (31/8/2026).
Dia uraikan, bahwa bencana alam bukan lah peristiwa tanpa makna, beberapa dimensi yang harus diperhatikan umat Islam ketika menghadapi musibah. Pertama, bencana alam adalah pengingat sekaligus pelajaran bagi manusia.
Jalaluddin menegaskan bahwa manusia adalah makhluk yang lemah dan sering terlena oleh kemajuan teknologi hingga lupa bahwa alam berada dalam genggaman Allah. Ia menyerukan pentingnya memperbaiki perilaku menjaga alam, dan menghindari tindakan-tindakan yang merusak lingkungan.
Bencana adalah ujian kesabaran dan keteguhan iman. Menurutnya , bagi seorang mukmin bencana dapat menjadi sarana penghapus dosa sekaligus peningkatan derajat spiritual.
“ Hikmah dibalik bencana sarana kita mendekatkan diri kepada Allah, mengevaluasi diri (Muhasabah). Menjadi sarana introspeksi atas kelalaian atau kerusakan lingkungan yang mungkin diperbuat manusia,”ungkap Jalaluiddin.
Bencana sarana tarbiyah (pendidikan ilahi) yang memperkuat iman. Orang beriman tindak melihat bencana sebagai akhir, melainkan sebagai panggilan untuk memperbaiki diri, memperdalam kesabaran ,dan menumbuhkan empati sosial.’
“Bahwa bencana menuntun kita untuk bersikap optimis, berbaik sangka, dan aktif berikhtiar . Bukan alasan untuk putus asa atau menyalahkan takdir, melainkan panggilan untuk bangkit,” tutup Jalaluddin.
Penulis: Sapto Subagio
Bagikan artikel ini:








