Hakikat Hidup, Kerja, Harta, dan Jabatan dalam Pandangan Islam

Redaksi
RedaksiPenulis
Tim Redaksi
Tim RedaksiEditor
15 Juni 2026Senin, 02:25 WIB
79
Hakikat Hidup, Kerja, Harta, dan Jabatan dalam Pandangan Islam

Foto:ilustrasi by pixabay

Hakikat Hidup, Kerja, Harta, dan Jabatan dalam Pandangan Islam

Kehidupan manusia merupakan sebuah perjalanan panjang yang penuh makna, di mana setiap embusan napas dan derap langkah diatur secara harmonis oleh nilai-nilai ketuhanan.

Dalam pandangan Islam, hakikat eksistensi penciptaan manusia bukanlah sebuah kebetulan yang tanpa arah, melainkan sebuah amanah agung sebagai hamba sekaligus khalifah di bumi untuk beribadah sepenuhnya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Pemahaman teologis ini melahirkan sebuah kesadaran spiritual yang mendalam bahwa seluruh dimensi kehidupan, termasuk aktivitas profesionalitas dan pekerjaan sehari-hari, tidak pernah terpisahkan dari poros transendental tersebut.

Hal ini tertuang dalam Al-Qur'an Surah Adz-Dzariyat ayat 56,:

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku."

Dalam konteks kebidanan, misalnya, esensi dari ayat ini terasa sangat dekat dan nyata. Ketika profesi luhur ini dijalani dengan kesadaran spiritual yang utuh, maka setiap tindakan klinis, empati yang dicurahkan kepada pasien, serta peluh yang menetes dalam menolong proses persalinan bukan lagi sekadar rutinitas mekanis demi menggugurkan kewajiban profesi atau pemenuhan tuntutan finansial semata.

Rangkaian aktivitas tersebut menjelma menjadi implementasi ibadah nyata yang bernilai agung di hadapan Sang Pencipta. Dalam realitas profesi kesehatan, jembatan yang menghubungkan antara kerja keduniawian dan ibadah ukhrawi terletak pada ketulusan niat dan kesesuaian metode dengan rambu-rambu syariat.

Aktivitas mencari nafkah atau menjalankan tugas keprofesian sering kali terjebak dalam dikotomi sekuler yang memisahkannya dari nilai-nilai ketuhanan, sehingga kerja hanya dianggap sebagai instrumen pemenuh kebutuhan materialistis dan pencapaian status sosial semata.

Namun, Islam menolak keras pemisahan tersebut dengan menegaskan bahwa manifestasi dari keimanan yang sejati justru tecermin dari bagaimana seseorang mendedikasikan energinya dalam kebaikan publik melalui pekerjaannya.

Hubungan integral ini sejalan dengan pesan Rasulullah SAW dalam sebuah hadis sahih riwayat Imam Al-Tabrani,

"Sesungguhnya di antara dosa-dosa ada yang tidak bisa dihapus dengan salat, puasa, haji, dan umrah." Sahabat bertanya, "Lalu apa yang dapat menghapusnya, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Semangat dalam mencari rezeki."

Ketika seorang bidan melangkah menuju ruang perawatan dengan niat ikhlas untuk menyelamatkan jiwa ibu dan bayi, merawat pasien dengan penuh kelembutan, serta menjaga kehormatan pasien, maka setiap detik waktu yang dihabiskannya telah terkonversi menjadi amal saleh yang setara dengan ibadah ritual.

Kehidupan modern yang kompetitif sering kali menuntut efisiensi yang kaku, tetapi kesadaran akan integrasi kerja dan ibadah ini menjadi benteng spiritual yang menjaga agar nurani profesional tidak gersang di tengah gemerlapnya tuntutan duniawi.

Pilar utama dalam mengaktualisasikan kerja sebagai ibadah adalah integrasi yang kokoh antara akhlak mulia dan profesionalisme, sebuah konsep etika kerja Islami yang menuntut kesempurnaan dalam setiap proses pelaksanaan tugas.

Akhlak, yang berakar dari kejujuran, ketulusan, rasa tanggung jawab, dan sifat amanah, bertindak sebagai kompas moral yang mengarahkan ke mana keahlian seseorang harus dilabuhkan. Di sisi lain, profesionalisme merupakan representasi dari kompetensi, kedisiplinan, dan ketekunan ilmiah yang dinamis, yang dalam istilah Islami dikenal sebagai itqan atau kesungguhan dalam bekerja.

Semangat profesionalitas ini ditegaskan oleh Rasulullah SAW dalam hadis sahih riwayat Imam Al-Tabrani,

"Sesungguhnya Allah mencintai seorang mukmin yang bekerja dengan giat (dan profesional) jika ia melakukan suatu pekerjaan."

Bagi calon bidan, keselarasan ini bersifat mutlak karena dunia kebidanan berhadapan langsung dengan keselamatan dua nyawa manusia sekaligus. Seorang bidan yang profesional tidak hanya menguasai teori asuhan kebidanan patologis dan keterampilan klinis secara mutakhir, melainkan juga menghiasi dirinya dengan kelembutan tutur kata, kesabaran menghadapi kecemasan pasien, serta integritas moral untuk tidak melakukan malapraktik atau tindakan yang melanggar kode etik demi keuntungan sepihak.

Profesionalisme tanpa akhlak melahirkan ketajaman keahlian yang dingin dan eksploitatif, sedangkan akhlak tanpa profesionalisme membuahkan kegagalan teknis yang membahayakan. Karena itulah, perpaduan keduanya menghasilkan pelayanan kesehatan yang humanis sekaligus ilmiah.

Di samping etika kerja, aspek yang sering kali menjadi ujian terbesar bagi integritas seorang profesional adalah sudut pandang terhadap harta dan jabatan, di mana Islam menempatkan keduanya bukan sebagai representasi mutlak dari kesuksesan individual, melainkan sebagai amanah yang berkonsekuensi pada pertanggungjawaban berat.

Harta yang dikumpulkan dan jabatan atau posisi struktural yang diraih bukanlah kepemilikan mutlak yang dapat dipergunakan sesuka hati demi memuaskan ego personal atau memupuk kesombongan materi. Keduanya adalah instrumen titipan dari Allah SWT yang berfungsi sebagai alat ujian untuk menguji sejauh mana kadar ketakwaan dan kepedulian sosial seseorang ketika berada di puncak kecukupan atau otoritas.

Realitas ini telah diperingatkan Allah dalam Al-Qur'an Surah Al-Anfal ayat 28,

"Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang besar."

Ketika seorang bidan kelak diberikan kelancaran rezeki berupa klinik yang mandiri dan berkembang pesat, atau dipercaya memangku jabatan strategis dalam organisasi profesi maupun instansi kesehatan, pandangan Islam mengajarkan untuk tetap rendah hati dan mawas diri.

Jabatan tidak boleh dijadikan alat untuk menghegemoni atau menindas sesama, dan harta tidak boleh ditumpuk secara bakhil, melainkan harus dipandang sebagai beban moral yang menuntut dedikasi lebih besar untuk menyejahterakan masyarakat luas.

Meskipun Islam menekankan pentingnya zuhud dan membatasi ambisi duniawi, agama ini tidak pernah melarang umatnya untuk aktif mencari harta, bahkan memandangnya sebagai sebuah kewajiban kolektif maupun personal selama aktivitas tersebut berjalan dalam koridor syariat yang bersih dari keharaman. Kebutuhan materi untuk menyambung hidup, memberikan pendidikan yang layak bagi keluarga, serta menegakkan pilar ekonomi umat adalah alasan rasional mengapa mencari rezeki bernilai mulia.

Kendati demikian, kebebasan finansial tersebut dibatasi secara ketat oleh aturan kehalalan, kejujuran transaksi, dan larangan keras terhadap segala bentuk kecurangan seperti riba, penipuan, suap, maupun eksploitasi terhadap kelemahan orang lain.

Hal ini sejalan dengan hadis sahih riwayat Imam Bukhari, "Mencari rezeki yang halal adalah wajib setelah menunaikan yang fardhu." Dalam konteks kebidanan, hal ini memberikan pesan edukatif yang kuat bahwa dalam menyediakan jasa pelayanan kesehatan, orientasi finansial tidak boleh mengaburkan nilai kemanusiaan.

Penetapan tarif pelayanan, pengadaan sarana dan prasarana medis, hingga rujukan pasien harus dilakukan secara transparan, adil, dan menjaga kejujuran ilmiah, tanpa ada unsur manipulasi medis demi meraup keuntungan finansial yang tidak berkah.

Tantangan terbesar yang dihadapi oleh generasi muda saat ini, khususnya mahasiswa kebidanan yang hidup di era disrupsi informasi, adalah derasnya arus materialisme dan hedonisme modern yang cenderung mengikis nilai-nilai spiritual dalam setiap sendi kehidupan.

Era modern sering kali menyodorkan standar kesuksesan yang semu, di mana nilai seorang manusia hanya diukur dari seberapa mewah kendaraan yang dikendarai, seberapa megah hunian yang dimiliki, atau seberapa tinggi pangkat yang bertengger di bahunya. Fenomena sosial ini berpotensi menyeret para profesional kesehatan ke dalam kompetensi tidak sehat yang menghalalkan segala cara demi mencapai status sosial tersebut, sehingga melupakan sumpah profesi dan nilai-nilai luhur kemanusiaan.

Menghadapi distorsi nilai ini, mahasiswa kebidanan perlu menanamkan pemahaman spiritual yang kokoh sejak dini, agar mampu menempatkan harta dan jabatan secara proporsional di dalam genggaman tangan untuk dikendalikan, bukan di dalam hati yang dapat mengendalikan seluruh kesadaran diri mereka.

Puncak dari pemahaman spiritual yang matang mengenai harta dan jabatan tecermin dari bagaimana kedua instrumen tersebut dimanifestasikan kembali menjadi aksi nyata yang berdampak luas bagi kemaslahatan sosial dan kemanusiaan. Harta yang berkah adalah harta yang mengalir dalam bentuk filantropi Islam seperti zakat, infak, sedekah, dan wakaf yang mampu mengentaskan kemiskinan serta meningkatkan derajat kesehatan masyarakat miskin melalui subsidi silang pelayanan kebidanan.

Begitu pula dengan jabatan, di mana otoritas yang dimiliki digunakan untuk merumuskan kebijakan kesehatan yang berpihak pada keselamatan ibu dan anak, menurunkan angka kematian ibu melahirkan, serta memeratakan akses pelayanan kebidanan di daerah-daerah terpencil yang minim fasilitas.

Ketika harta dan jabatan dikonversikan menjadi jembatan kebaikan sosial, maka kehidupan seorang profesional kebidanan tidak hanya sukses secara materi di dunia, tetapi juga memanen investasi spiritual yang abadi di akhirat kelak. Dengan demikian, integrasi nilai Islam dalam kehidupan kerja bukan sekadar teori normatif, melainkan sebuah kebutuhan fundamental bagi bidan muslimah untuk mewujudkan pelayanan kebidanan yang paripurna, penuh berkah, dan senantiasa berorientasi pada keridaan Allah Subhanahu wa Ta'ala.[]

Bagikan artikel ini:

Berita Terkait Lainnya

Lihat Semua →
PDNA Kotim Perkuat Mental Perempuan di Tengah Krisis Ekologis

PDNA Kotim Perkuat Mental Perempuan di Tengah Krisis Ekologis

PDNA Kotim Perkuat Mental Perempuan di Tengah Krisis Ekologis

Redaksi
Redaksi2 hari yang lalu
Tidak Boleh Bersikap Diam Ketika Amanah Publik Terancam

Tidak Boleh Bersikap Diam Ketika Amanah Publik Terancam

Tidak Boleh Bersikap Diam Ketika Amanah Publik Terancam

Redaksi
Redaksi05 Okt 2026
Kajian Ahad Pagi PCM Pahandut, Menginspirasi Warga Muhammadiyah

Kajian Ahad Pagi PCM Pahandut, Menginspirasi Warga Muhammadiyah

Kajian Ahad Pagi PCM Pahandut, Menginspirasi Warga Muhammadiyah

Redaksi
Redaksi05 Okt 2026
Muhammadiyah Kotim Salurkan 20.000 Liter Air Bersih ke Empat Titik

Muhammadiyah Kotim Salurkan 20.000 Liter Air Bersih ke Empat Titik

Keterbatasan air bersih membuat warga di sejumlah wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, harus mengandalkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari

Redaksi
Redaksi04 Okt 2026
Muhammadiyah Salurkan Bantuan Oxycan Untuk Relawan Karhutla Di Kalteng

Muhammadiyah Salurkan Bantuan Oxycan Untuk Relawan Karhutla Di Kalteng

Muhammadiyah Salurkan Bantuan Oxycan Untuk Relawan Karhutla Di Kalteng

Redaksi
Redaksi02 Okt 2026
Avatar
Mediamukalteng.com dengan motto "Da'wah News and Education" sebagai ikhtiar membangun masyarakat madani, harmonis dan berkeadaban.
Copyright © 2026 MediaMu Kalteng
Designed and Developed by Jinara Studio
Hakikat Hidup, Kerja, dan Jabatan dalam Pandangan Islam