Ilmu Pengetahuan dan Kemaslahatan Manusia
oleh: Khilmi Zuhroni *)
Tahun 2023, organisasi kesehatan dunia WHO (World Health Organization) mencatat sekitar 260.000 perempuan meninggal akibat komplikasi kehamilan dan persalinan. Angka ini turun 40 persen dibanding tahun 2000, ketika rasio kematian ibu (Maternal Mortality Ratio/MMR) global mencapai 328 per 100.000 kelahiran hidup, menjadi 197 per 100.000 pada 2023.
Lebih dari 90% kematian ibu terjadi di negara berpendapatan rendah dan menengah-bawah, dan sebagian besar kasus tersebut sebenarnya dapat dicegah. Yang lebih memprihatinkan, progres penurunan ini melambat sejak awal dekade 2020-an, dan tren MMR justru meningkat di beberapa negara berpendapatan tinggi sejak 2016 hingga 2020.
Melihat data-data ini, ada satu pertanyaan mendasar yang patut direnungkan. Untuk apa sebenarnya ilmu pengetahuan itu ada?
Teknologi kedokteran modern telah mencapai capaian luar biasa, mulai dari pemetaan genom janin hingga ultrasonografi 4D yang dapat mendeteksi anomali sejak trimester pertama. Namun di tengah kecanggihan ini, masih ada perempuan yang meninggal hanya karena tidak mendapat pertolongan tenaga kesehatan terlatih saat melahirkan. Inilah letak persoalannya. Ilmu yang tidak berpihak pada kemanusiaan hanyalah kumpulan data tanpa ruh.
Ilmu sebagai Amanah, Bukan Sekadar Kompetensi
Dalam tradisi keilmuan Islam, menuntut ilmu tidak pernah dipisahkan dari tujuan kemanusiaan. Allah berfirman dalam Al-Qur'an Surat Al-Mujadalah ayat 11:
"...Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat..."
Ayat ini sering dikutip untuk memotivasi belajar, tetapi maknanya lebih dalam dari itu. Derajat yang ditinggikan bukan karena seseorang menguasai banyak teori, melainkan karena ilmu itu digunakan untuk memberi manfaat.
Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain" (HR. Ahmad, Ath-Thabrani, ad-Daruquthni).
Hadis ini menegaskan bahwa kualitas seorang penuntut ilmu, termasuk mahasiswa kebidanan, tidak diukur dari nilai akademik semata, tetapi dari dampak nyata yang dihasilkan ilmunya bagi keselamatan dan kesejahteraan orang lain.
Konsep ini dalam filsafat ilmu disebut sebagai aksiologi, yakni dimensi nilai dan kegunaan ilmu pengetahuan. Ilmu kebidanan, sejak awal kemunculannya sebagai disiplin ilmiah, lahir dari kebutuhan paling mendasar manusia, yakni menyelamatkan dua nyawa sekaligus, ibu dan bayi, pada momen paling rentan dalam siklus kehidupan.
Tidak ada disiplin ilmu lain yang ontologinya, hakikat keberadaannya, begitu erat terjalin dengan kemaslahatan (al-maslahah) seperti ilmu kebidanan.
Maslahat sebagai Tujuan Akhir Ilmu
Dalam kajian ushul fiqih, ulama besar Imam Al-Ghazali merumuskan konsep maqashid shariah (tujuan-tujuan syariat) yang salah satu pilar utamanya adalah hifz an-nafs, menjaga jiwa atau nyawa manusia.
Setiap ilmu, termasuk ilmu kesehatan, pada akhirnya harus diukur sejauh mana ia berkontribusi pada pilar ini. Ketika seorang bidan menguasai ilmu tentang preeklamsia, perdarahan pascapersalinan, atau asfiksia neonatorum, penguasaan itu bukan tujuan akhir. Tujuan akhirnya adalah nyawa yang terselamatkan.
Hal ini relevan ketika kita melihat data bahwa sub-Sahara Afrika dan Asia Selatan menyumbang sekitar 87% kematian ibu global pada 2023, sementara pertolongan oleh tenaga kesehatan terlatih sebelum, selama, dan setelah persalinan dapat menyelamatkan nyawa ibu dan bayi baru lahir.
Kesenjangan ini bukan kesenjangan ilmu pengetahuan dalam arti teori, melainkan kesenjangan akses terhadap penerapan ilmu itu. Inilah mengapa konsep ilmu dan kemanusiaan tidak boleh berhenti di ruang kuliah atau jurnal ilmiah, tetapi ilmu pengetahuan harus turun ke desa-desa terpencil, ke rumah-rumah yang jauh dari fasilitas kesehatan, ke tangan-tangan bidan yang bersedia hadir di tengah malam demi satu kelahiran.
Evidence-Based Midwifery: Ilmu yang Membumi
Pendekatan ilmiah dalam kebidanan modern dikenal sebagai evidence-based midwifery, yakni praktik kebidanan berbasis bukti. Pendekatan ini menuntut setiap tindakan klinis berlandaskan penelitian yang teruji, bukan kebiasaan atau asumsi turun-temurun.
Namun penting dipahami bahwa evidence-based practice sejatinya adalah wujud konkret dari nilai kemanusiaan dalam ilmu: ia menolak pendekatan yang asal-asalan karena nyawa manusia bukan tempat untuk bereksperimen tanpa dasar.
Dalam konteks ini, mahasiswa kebidanan perlu menyadari bahwa belajar metodologi penelitian, biostatistik, dan farmakologi bukan sekadar memenuhi tuntutan kurikulum. Semua itu adalah instrumen untuk menjawab panggilan yang lebih besar, yaitu bagaimana ilmu yang dipelajari hari ini dapat menjadi penolong bagi seorang ibu yang berjuang melahirkan esok hari.
Menutup dengan Tanggung Jawab
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga" (HR. Muslim).
Hadis ini menempatkan proses belajar sebagai ibadah, tetapi ibadah itu hanya bermakna penuh ketika ilmu yang didapat kemudian dialirkan kembali kepada manusia lain yang membutuhkan.
Sebagai calon bidan, setiap mahasiswa membawa potensi untuk menjadi bagian dari solusi atas data 260.000 kematian ibu yang disebutkan di awal.
Ilmu yang dipelajari di bangku kuliah, seperti: anatomi, fisiologi, asuhan persalinan, deteksi dini komplikasi, bukan sekadar materi ujian. Ia adalah amanah kemanusiaan yang kelak dipertanggungjawabkan, baik secara profesional kepada pasien, maupun secara spiritual kepada Sang Pencipta.
Pada titik inilah ilmu pengetahuan dan kemaslahatan hidup manusia bertemu, bukan sebagai dua hal yang berbeda, melainkan sebagai satu kesatuan tujuan yang tak terpisahkan.
*) Dosen Al Islam Program D3 Kebidanan Universitas Muhammadiyah Sampit
Bagikan artikel ini:








