Mengupas Ilmu Manajemen; Dari Teori Kelas Dunia hingga Realitas Sehari-hari
Oleh: Khilmi Zuhroni
Ketika mendengar kata "manajemen" atau "manajer", apa yang terlintas di benakmu? Sebagian besar dari kita mungkin langsung membayangkan sosok eksekutif berjas rapi yang duduk di ruang pojok gedung pencakar langit, atau rapat-rapat tegang di meja bundar perusahaan multinasional.
Pada kenyataannya, manajemen adalah napas dari kehidupan kita sehari-hari. Mulai dari seorang ibu rumah tangga yang mengatur uang belanja bulanan, hingga ketua pemuda karang taruna yang merancang acara perayaan 17 Agustus, semuanya sedang mempraktikkan ilmu manajemen.
Untuk memahami manajemen secara mendalam namun tetap santai, kita bisa menengok pemikiran dari para begawan manajemen modern, seperti Stephen P. Robbins dan Mary Coulter, serta tokoh klasik seperti George R. Terry dan Richard L. Daft.
Melalui pemikiran mereka, kita akan menyadari bahwa manajemen bukanlah sekadar teori di atas kertas, melainkan sebuah seni dan sains tentang bagaimana manusia bekerja sama untuk mencapai satu tujuan yang sama.
Apa Sebenarnya Manajemen Itu?
Dalam bukunya yang sangat populer, Management, Stephen P. Robbins dan Mary Coulter mendefinisikan manajemen sebagai proses pengoordinasian dan pengawasan aktivitas kerja orang lain sehingga aktivitas tersebut dapat diselesaikan secara efisien dan efektif. Ada dua kata kunci ajaib di sini, yaitu: Efisiensi dan Efektivitas.
Robbins dan Coulter mengibaratkan efisiensi sebagai "melakukan segala sesuatu dengan benar" (doing things right). Ini berkaitan dengan input dan output.Yakni bagaimana kita mendapatkan hasil maksimal dari sumber daya yang minimal (uang, waktu, tenaga). Sementara itu, efektivitas adalah "melakukan hal yang benar" (doing the right things), yaitu memastikan bahwa aktivitas yang dilakukan benar-benar mengarah pada pencapaian tujuan yang diinginkan.
Bayangkan seorang pemilik Warkop kekinian di Malang. Jika ia mampu membuat satu cangkir kopi dengan takaran biji kopi yang pas tanpa banyak bahan yang terbuang, ia sedang bersikap efisien. Namun, jika ia membuat kopi yang enak tapi ternyata pelanggannya lebih mencari minuman non-kopi seperti matcha latte, maka bisnisnya menjadi tidak efektif karena tujuannya (mendapatkan banyak pelanggan dan profit) tidak tercapai.
Manajer yang baik harus bisa mencapai keduanya: menekan pemborosan (efisien) dan mencapai target penjualan (efektif).
Sementara itu, George R. Terry, yang dikenal sebagai salah satu bapak manajemen melalui bukunya Principles of Management, menekankan bahwa manajemen adalah sebuah proses yang khas. Proses ini digerakkan untuk menentukan serta mencapai sasaran-sasaran yang telah ditetapkan melalui pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber daya lainnya.
Empat Pilar Utama: Dari POAC hingga POLC
Ilmu manajemen memiliki kerangka kerja yang menjadi tulang punggung bagaimana sebuah organisasi berjalan. George R. Terry mempopulerkan singkatan legendaris POAC (Planning, Organizing, Actuating, Controlling).
Di era yang lebih modern, tokoh seperti Robbins & Coulter serta Richard L. Daft menggunakan pendekatan POLC(Planning, Organizing, Leading, Controlling). Mari kita bedah satu per satu.
1. Perencanaan (Planning)
Perencanaan adalah tahap menetapkan tujuan organisasi dan menentukan strategi terbaik untuk mencapainya. Menurut Richard L. Daft, perencanaan yang baik adalah kompas yang menentukan arah kapal di tengah lautan yang tak menentu.
Contohnya: Sebuah Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang ingin mengembangkan potensi wisata desa. Tahap planning bukan sekadar angan-angan. Kepala desa dan pengurus BUMDes harus duduk bersama untuk menentukan target. Misalnya: "Tahun depan, kita targetkan 1.000 wisatawan datang ke air terjun desa kita."
Mereka lalu merancang strategi, seperti: membuat jalan akses, membangun toilet, dan mempromosikannya lewat Instagram dan TikTok. Tanpa perencanaan ini, dana desa bisa habis tanpa hasil yang jelas.
2. Pengorganisasian (Organizing)
Setelah rencana dibuat, langkah selanjutnya adalah pengorganisasian. Robbins & Coulter mendefinisikan fungsi ini sebagai proses menentukan apa yang harus dilakukan, bagaimana cara melakukannya, dan siapa yang akan melakukannya. Ini tentang membagi tugas dan mengalokasikan sumber daya.
Ambil contoh, misalnya di saat warga sebuah RT sepakat mengadakan penyembelihan hewan kurban saat Idul Adha. Ketua panitia tidak mungkin menyembelih sapi, memotong daging, menimbang, dan membagikannya sendirian.
Ia melakukan organizing. Bapak A ditunjuk sebagai koordinator penyembelihan karena punya keahlian; Ibu-ibu PKK di bagian logistik dan konsumsi; serta para pemuda karang taruna di bagian distribusi kupon dan daging.
Semuanya terstruktur sehingga acara yang melibatkan banyak orang dan sumber daya (sapi, golok, plastik, tenaga) berjalan rapi dan tidak semrawut.
3. Kepemimpinan / Penggerakan (Leading / Actuating)
Di sinilah letak perbedaan istilah antara Terry dan penulis modern. Terry menggunakan istilah Actuating (penggerakan), yaitu upaya agar semua anggota kelompok mau bekerja secara ikhlas dan antusias. Sementara Robbins & Coulter serta Daft menggunakan istilah Leading (kepemimpinan), yang maknanya lebih luas mencakup memotivasi orang, mengarahkan aktivitas, memilih saluran komunikasi yang efektif, dan menyelesaikan konflik.
Daft sangat menekankan bahwa manajer masa kini tidak lagi bertindak sebagai "mandor" yang hanya tahu menyuruh (controller), melainkan sebagai fasilitator yang membantu timnya berkembang.
Ambil contoh sebuah perusahaan rintisan (startup) lokal atau agency kreatif. Manajer tidak bisa lagi membentak desainer atau programmer-nya untuk bekerja cepat. Pekerja kreatif membutuhkan ruang, kenyamanan, dan motivasi.
Seorang pemimpin (leader) di sini akan mendekati timnya secara personal, mendengarkan keluhan mereka jika terjadi burnout, memberikan apresiasi atas desain yang bagus, dan menginspirasi mereka bahwa aplikasi yang mereka buat akan sangat membantu UMKM di luar sana. Sentuhan manusiawi inilah yang disebut leading.
4. Pengendalian (Controlling)
Fungsi terakhir namun tak kalah penting adalah pengendalian. Ini adalah proses memantau, membandingkan, dan mengoreksi kinerja. Walaupun rencana sudah sempurna dan tim sudah termotivasi, selalu ada kemungkinan melenceng dari jalur.
Ambil contoh misalnya seorang ibu yang membuka usaha katering harian. Di awal bulan, ia menargetkan keuntungan bersih tiga juta rupiah (planning). Di akhir bulan, ia menghitung nota belanja bahan baku dan pemasukan (controlling). Ternyata, keuntungannya hanya satu juta rupiah.
Ia kemudian melakukan evaluasi: oh, ternyata harga cabai dan bawang merah naik drastis minggu lalu, tapi ia tidak menaikkan harga jual kateringnya. Dari hasil controlling ini, bulan depan ia bisa membuat keputusan baru (mengganti menu atau menyesuaikan harga jual) agar targetnya kembali tercapai.
Manajemen itu Seni sekaligus Sains
Membaca teori-teori dari Robbins, Coulter, Terry, dan Daft membawa kita pada satu kesimpulan besar bahwa, manajemen adalah perpaduan yang indah antara sains yang kaku dan seni yang fleksibel.
Manajemen disebut sains karena ia memiliki kerangka ilmiah, rumus efisiensi, metrik kinerja, dan analisis data. Ketika kita menghitung Return on Investment (ROI) atau menggunakan algoritma untuk memprediksi tren pasar, kita sedang mempraktikkan sains.
Namun, di sisi lain, manajemen adalah sebuah seni. Mengapa? Karena pada intinya, manajemen adalah tentang menghadapi manusia.
Sampai hari ini, tidak ada rumus matematika pasti yang bisa membuat seseorang yang sedang bersedih menjadi produktif, atau rumus fisika yang bisa meredakan konflik antara dua rekan kerja yang saling egois. Di situlah seni komunikasi, empati, persuasi, dan kepemimpinan bermain. Richard L. Daft mengingatkan bahwa inti dari manajemen modern adalah kolaborasi, bukan sekadar komando.
Pada akhirnya, pengantar ilmu manajemen mengajarkan kita satu hal fundamental yakni: selama manusia masih perlu berkumpul dan bekerja sama untuk mencapai sesuatu yang tidak bisa dicapai sendirian, ilmu manajemen akan selalu relevan.
Baik untuk memimpin perusahaan multinasional seperti GoTo, mengelola sebuah warung seblak, memimpin kepanitiaan di kampus, atau sekadar memanajemen waktu untuk diri sendiri untuk belajar dan bekerja, kamu adalah seorang manajer.
Teori-teori dari Stephen P. Robbins, Mary Coulter, George R. Terry, dan Richard L. Daft bukanlah sekadar teks akademik yang berdebu di perpustakaan. Mereka adalah buku panduan kehidupan yang, jika dipahami dan dipraktikkan (mulai dari merencanakan, mengorganisasi, memimpin, hingga mengevaluasi), akan membuat aktivitas apa pun di masyarakat kita menjadi lebih rapi, terarah, serta tentu saja: efisien dan efektif.[]
Bagikan artikel ini:








