SAMPIT – Sebuah terobosan baru di bidang pertanian dan edukasi lingkungan lahir dari pekarangan rumah di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Dr. Joni, seorang akademisi sekaligus praktisi pertanian, berhasil mengembangkan inovasi bertajuk "Teknik Stek Daun" dalam metode stek daun tanaman keras, sebuah pencapaian yang diklaim belum pernah berhasil diaplikasikan secara luas di berbagai fakultas pertanian di Indonesia.
Selama ini, dunia akademis dan praktisi pertanian meyakini bahwa tanaman keras hanya bisa dikembangbiakkan melalui biji, cangkok, atau stek batang dengan bantuan zat perangsang akar serta sungkup plastik penutup untuk menghindari penguapan ekstrem. Satu-satunya pengecualian umum adalah tanaman cocor bebek, yang secara alami memang berkembang biak melalui tunas daun. Namun, lewat kolaborasi intensif antara Dr. Joni dan SMA Muhammadiyah Sampit, paradigma lama tersebut berhasil dipatahkan.
Melalui eksperimen mandiri yang memanfaatkan pekarangan rumahnya, Dr. Joni membuktikan bahwa sehelai daun dari pohon tertentu mampu menumbuhkan akar secara mandiri tanpa bantuan zat kimia perangsang maupun penutup sungkup. "Teknik ini murni mengandalkan kemampuan adaptasi alami daun, asalkan media tanam dan jenis tanamannya tepat," ujar Dr. Joni saat ditemui di kediamannya, belum lama ini.
Menurut Dr. Joni, metode stek daun ini menawarkan sejumlah keunggulan signifikan dibandingkan dengan penanaman konvensional menggunakan biji. Salah satu aspek paling krusial adalah efisiensi waktu dan fleksibilitas. Petani atau pehobi tanaman tidak perlu lagi menunggu sebuah pohon dewasa hingga berbunga dan berbuah hanya untuk mendapatkan benih berkualitas.

Selain itu, teknik ini dinilai sangat ramah lingkungan karena mampu meminimalkan sampah organik. Ketika sehelai daun digunakan sebagai bahan stek, sisa bagian daun atau tanaman lainnya tidak langsung terbuang sia-sia. Daun kayu manis, misalnya, jika tidak lolos seleksi sebagai media stek, masih dapat diolah menjadi minuman herbal berkhasiat. Sementara itu, sisa-sisa daun dari tanaman lain tetap bisa diproses ulang menjadi pupuk kompos berkualitas tinggi.
Kendati menawarkan potensi besar, Dr. Joni menggarisbawahi bahwa tidak semua jenis vegetasi cocok dengan metode radikal ini.
Berdasarkan hasil risetnya, tanaman yang dapat dikembangkan melalui stek daun umumnya harus memiliki karakteristik berdaun tebal dengan kandungan minyak yang cukup tinggi. Dua komoditas bernilai ekonomi tinggi yang berhasil diuji coba dengan metode ini adalah pohon manggis dan pohon ulin, pohon khas Kalimantan yang kian langka.
Kunci keberhasilan lain dari Teknik Stek Daun ini terletak pada ekosistem bawahnya. Dr. Joni menegaskan, media tanam yang digunakan sama sekali tidak menggunakan tanah biasa yang rentan membawa patogen atau jamur. Sebagai gantinya, dibutuhkan formula campuran yang jauh lebih steril, yakni kombinasi antara sekam bakar, cocopeat (serabut kelapa), dan biochar. Campuran ini terbukti mampu menjaga kelembapan mikro di sekitar pangkal daun tanpa memicu pembusukan.
Tidak berhenti pada skala laboratorium rumahan dan kerja sama tingkat sekolah menengah, Dr. Joni juga mulai memperluas dampak sosial dari penemuannya. Kesadaran akan pentingnya kelestarian alam ia tularkan sejak dini dengan membuka pekarangannya sebagai ruang belajar terbuka bagi anak-anak dari TK Aisyiyah 1 Sampit.
Edukasi interaktif pada anak-anak usia dini tersebut mengenalkan pada cara menghargai selembar daun yang bisa menjadi pohon besar di masa depan. Langkah kecil dari Sampit ini diharapkan tidak hanya mampu memperkaya literasi agrikultur nasional, tetapi juga melahirkan generasi baru yang lebih peduli pada keberlanjutan lingkungan.
Bagikan artikel ini:








