[CERPEN] Musholla Kecil di Tengah Mesin

Redaksi
RedaksiPenulis
Tim Redaksi
Tim RedaksiEditor
16 Januari 2026Jumat, 22:58 WIB
35
[CERPEN] Musholla Kecil di Tengah Mesin

Foto:Ilustrasi kegiatan musholla kecil ditengah pabrik saat subuh

CERPEN
Musholla Kecil di Tengah Mesin

(Bagian 6 dari serial cerpen Nusantara 2045)

Di kota industri di tepian Sungai Mahakam, suara mesin berlomba dengan azan subuh. Gedung tinggi berkilauan, panel surya berpadu dengan pancaran lampu neon, dan di antara semua itu, suara pekerja masih terdengar, berbaur dengan suara teknologi yang tak pernah benar-benar sunyi.

Namaku Rafiq. Aku delapan belas tahun, buruh junior di pabrik elektronik otomatis, anak dari keluarga sederhana yang pindah dari desa kecil di Kutai Timur ke Kota Samarinda demi impian akan masa depan yang lebih cerah. Setiap pagi, aku berjalan melewati lorong pabrik yang dipenuhi robot pemilah, mesin pengemas, dan komputer pengendali produksi—tapi di dada, ada degup rasa ingin tahu tentang manusia di antara mesin.

Ayahku dulu tukang las, kini supervisor mesin cerdas. Ibu dulu penjual jajanan pasar, sekarang mengurus kantin pabrik, mengajarkan pada robot masak agar bisa meracik sambal dengan rasa ibu-ibu Kalimantan. Ibu sering berkata, “Mesin boleh pintar, Nak, tapi lidah manusia tetap tak bisa diajar.”

Setiap pagi, sebelum pabrik penuh suara, musholla kecil menjadi tempat istirahat jiwa. Ruangan itu kecil, di tengah deretan mesin las dan robot pengangkut, dindingnya sederhana, lantainya bersih. Keajaibannya bukan pada arsitektur, tetapi pada keheningan yang damai di antara deru teknologi.

Aku sering duduk di ujung ruang, menghadap kiblat, di atas sajadah tipis yang diberi ayah saat aku lulus SMA. Di luar pintu, puluhan robot berlalu lalang, menjalankan algoritma pengaturan, membalas pesan suara dari pusat produksi. Tapi di dalam ruang itu, manusia menjadi manusia: berdoa, menahan air mata, tertawa, bahkan mengantuk.

Waktu-waktu salat tidak pernah berubah, hanya suasananya yang berganti. Dulu, para pekerja harus bergantian keluar dari pabrik dan mencari musholla. Kini, sistem manajemen pabrik mengatur “micropause” setiap waktu salat. Robot dan mesin berhenti—seluruh pabrik hening untuk memberi kesempatan manusia berdialog dengan Penciptanya.

Ada perasaan aneh setiap waktu itu tiba: dari huru-hara mesin yang sibuk, suara manusia perlahan menguasai kembali ruangan.

Kadang, aku membayangkan Tuhan tersenyum, melihat ciptaan-Nya mampu mengatur ritme kerja antara algoritma dan rasa syukur.

Pak Salim, imam tua yang sekolah di Mesir, kini memimpin musholla kecil di pabrik besar ini. Ia selalu membawa buku-buku kecil dan gadget digital yang berisi tafsir terbaru dan puisi sufi. “Di sini,” katanya setiap pagi, “doa menjadi nilai, bukan sekadar ritual. Mesin membantu hidup, tapi manusia mengatur arah hidupnya sendiri.”

Pak Salim sering membaca puisi sebelum salat:

“Aku ingin menjadi debu di alas kaki pekerja,

yang setiap pagi membangun negeri dari deru mesin dan peluh.”

Suara puisi itu kadang meresap, membuat buruh dan supervisor terdiam. Di hari-hari berat ketika target produksi gagal dicapai, musholla kecil jadi pelipur lara, menjadi tempat curhat, kadang menjadi tempat berjanji untuk terus berjuang.

Teknologi makin canggih, tapi pertemuan manusia dengan Tuhan tetap sederhana. Di musholla kecil itu, ibu-ibu dan bapak-bapak pabrik duduk berdampingan dengan anak magang dan teknisi robot. Semua bersua karena alasan yang sama: ingin mengingat bahwa manusia lebih dari sekadar roda produksi.

Aku belajar banyak dari mereka: kesabaran, keikhlasan, dan kekuatan untuk menerima perubahan.

Sahabatku, Budi, ahli coding robot, kadang salat sambil membawa chip dan screwdriver kecil. “Doa itu istirahat dari logika, Rafiq. Di ruang ini, aku merasa jadi anak kecil, lupa segala algoritma yang rumit.”

Kami tertawa, lalu melanjutkan salat, bersama-sama menata kembali hidup yang kadang terlalu pelik.

Di luar musholla, dunia berubah dengan cepat. Pabrik ini memproduksi barang elektronik untuk seluruh dunia, dikendalikan oleh panel AI yang memantau ribuan variabel. Setiap kali terjadi kerusakan, sistem langsung mengirim pesan ke teknisi, kadang minta saran dari buruh senior.

Namun, dalam setiap kerumitan, manusia tetap memilih untuk kembali kepada tradisi lama: bermusyawarah, memecahkan masalah bersama, dan merayakan sukses dengan doa dan potong kue.

Di hari Jumat, musholla berlipat gema. Khutbah dari Pak Salim sering membahas hubungan antara manusia dan mesin, tentang pentingnya tetap bersyukur, menjaga etika, dan tidak lupa pada kemanusiaan. Suara khutbah disiarkan di seluruh pabrik, didengar oleh seribu robot lewat speaker cerdas—kadang ada pekerja yang bercanda, “Barangkali nanti robot bisa diajak salat juga, Pak?”

Pak Salim tersenyum, lalu menjawab, “Biar robot membantu kita, tapi urusan doa biar jadi urusan hati manusia.”

Kadang setelah salat, pekerja berdiskusi tentang kehidupan. Tentang anak-anak mereka yang sekolah daring, tentang cita-cita membangun rumah di pinggir kota baru, tentang mimpi agar pabrik tetap ramah untuk semua.

Musholla adalah ruang untuk mengingat masa lalu, berusaha di masa kini, dan merancang masa depan.

Aku, Rafiq, belajar melihat keindahan dalam dualitas:

Di satu sisi, mesin-mesin raksasa bekerja tanpa lelah, angka target produksi menjadi pengukur sukses.

Di sisi lain, musholla menjadi saksi harapan kecil, harapan agar teknologi tidak menelan nurani.

Kadang di ruang itu, aku bertemu gadis yang bekerja di bagian logistik, namanya Fara. Ia membaca Al-Qur'an digital di antara istirahat kerja, sesekali menulis puisi tentang kehidupan dalam pabrik.

Kami berbicara tentang mimpi, tentang masa depan kota, tentang kemungkinan bahwa satu hari nanti mesin-mesin juga belajar mendoakan manusia.

Hari-hari besar selalu jadi momen istimewa di musholla. Di bulan Ramadan, seluruh pabrik mengikuti jadwal sahur otomatis, mesin dapur mengirim pesan ke seluruh gawai pekerja: “Sahur sudah siap di kantin.” Namun selepas sahur, seluruh pekerja berkumpul di musholla kecil, berzikir bersama, menyalakan lampu rendah, menikmati keheningan di tengah kesibukan.

Suasana damai itu, menurutku, adalah keajaiban nusantara baru—teknologi paling maju bertemu tradisi jiwa yang abadi.

Tahun 2045, di Samarinda, pabrik elektronik terbesar menjadi ikon penghubung antara manusia dan mesin, antara doa dan produksi, antara harapan dan realitas. Pemerintah datang, wartawan datang, menteri datang—semua bertanya bagaimana pabrik bisa berjalan tanpa kehilangan suasana kemanusiaan.

Pak Salim menjawab dengan puisi:

“Di antara mesin dan manusia, doa adalah jembatan,

menyatukan tujuan dan hati.”

Suatu sore, pabrik mengalami gangguan besar, mesin-mesin berhenti, produksi macet. Semua pekerja dan supervisor panik. Pak Salim meminta semua berkumpul di musholla kecil. “Tenang, Nak. Mesin punya logika, tapi manusia punya doa.”

Kami berdoa bersama, lalu keluar memperbaiki mesin, membersihkan sisa kerusakan, dan akhirnya pabrik berjalan kembali.

Musibah itu kemudian diceritakan oleh semua orang di pabrik, bukan sebagai titik lemah, tapi sebagai tanda bahwa di tengah mesin paling maju pun, doa tetap jadi penggerak terakhir.

Aku, Rafiq, tahu, musholla kecil di tengah mesin adalah alasan orang masih mau bekerja dan berharap.

Di sini, manusia bisa menangis tanpa malu, bisa tertawa tanpa takut, bisa bermimpi tanpa dibatasi algoritma.

Semua berawal dan berakhir pada harapan yang dikirim dengan kata dan getar hati, bukan dengan logika rumit.

Jika malam tiba, cahaya dari musholla kecil memancar lembut di antara lampu produksi dan API mesin.

Di sana, aku belajar bahwa teknologi bisa memudahkan hidup, tapi doa—dan manusia—tetap menjadi pelita di tengah kemajuan.

[ZK. Mentaya]


BAGIAN 1

BAGIAN 2

BAGIAN 3

BAGIAN 4

BAGIAN 5


Avatar
Mediamukalteng.com dengan motto "Da'wah News and Education" sebagai ikhtiar membangun masyarakat madani, harmonis dan berkeadaban.
Copyright © 2026 MediaMu Kalteng
Designed and Developed by Jinara Studio
[CERPEN] Musholla Kecil di Tengah Mesin